Sadek Suloso Hasby : Perdamaian Aceh Jangan Dijadikan Komoditas Politik

Menjelang Pilpres 2009, yang sebentar lagi digelar, telah menjadikan Pesta Demokrasi tersebut, sebagai ajang promosi individu Capres maupun Cawapres, padahal banyak kebijakan yang sifatnya kolektif, karena merupakan kebijakan yang diambil secara bersama-sama, tetapi anehnya, ada juga pihak-pihak yang mengklaim bahwa kesuksesan tersebut, adalah hasil jerih payah individu, untuk menganggapi hal tersebut, Berita Global mencoba mengkonfirmasi hal tersebut, kepada Ketua Umum Generasi Muda Sriwijaya, Sadek Suloso Hasby, berikut petikan wawancaranya.

Banyak yang mengaku mengkalim sebagai Pahlawan Perdamaian Aceh, Apa Komentar Anda ?

Sadek : Dalam setiap masalah yang berskala besar seperti Perdamaian Aceh, padahal dalam Undang – Undang Dasar 1945, ditegaskan, bahwa Presiden RI yang berhak menyatakan damai atau perang, dalam satu daerah tertentu, mungkin saja waktu itu Presiden SBY memberikan rekomendasi serta kekuasaan penuh terhadap Wapres Jusuf Kalla, untuk memprakarsai perdamaian itu, beserta Menkumham, Hamid Awaluddin. Pada dasarnya perdamaian itu baik, tetapi dalam masalah perdamaian Aceh ini, ada dua masalah yang timbul, umpamanya masalah kudeta, baik di Amerika Latin, maupun Asia, siapa yang berhasil melakukan kudeta, selalu dinyatakan pahlawan, daripada pihak yang mengadakan kudeta, sementara dipihak pemerintah yang sah, mereka dikatakan pengkhianat, dalam hal ini, juga begitu, dimana Jusuf Kalla dikatakan “Pahlawan”, oleh orang-orang GAM, tetapi bagi anggota TNI yang gugur dan yang Pro Perang, Jusuf Kalla serta SBY dikatakan sebagai pengkhianat, jadi dalam hal ini, tinggal siapa yang menilai, kalau GAM, mereka menilai pahlawan, tetapi bagi keluarganya yang gugur dalam konflik selama ini, bisa saja mereka mengatakan sebagai pengkhianat, jadi dalam hal ini tidak perlu mengkalim serta mempolitisir, seolah-olah pahlawan, karena hal tersebut aturan mainnya memang seperti itu, dimana Presiden atau mewakilkan untuk mengatasi perdamaian, itu adalah haknya, tetapi siapa pelaku sejarahnya itu tidak banyak yang tau, oleh sebab itu masalah yang sudah selesai ini, tidak perlu mengklaim pahlawan, karena mungkin saja disatu pihak mengatakan pahlawan, tetapi bisa juga di pihak lain mengatakan sebagai pengkhianat, bagi mereka yang menjadi korban Aceh, sekali lagi janganlah mengklaim saya pahlawan ini, pahlawan itu.

Kenapa GM Sriwijaya dalam Pilpres ini, lebih mendukung pasanga Mega – Prabowo ?

Sadek : GM Sriwijaya memang mendukung Mega Pro, karena pasangan ini konsep dan program, jelas-jelas pro rakyat, di Indonesia ini tidak bisa mutlak diserahkan kepada Demokrasi atau ke DPR, tetapi harus dikendalikan dari atas/ penguasa, baik itu pembangunan, perang, anggaran pertahanan atau masalah lain, seperti masalah Singapura atau Malaysia yang mengklaim wilayahnya serta mengalihkan patok-patok di perbatasan, oleh sebab itu bangsa Indonesia membutuhkan Presiden yang kuat, bukan presiden yang lemah, oleh sebab itu saya yakin Presiden yang mampu mengatasi masalah-masalah seperti Pertahanan serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta hal lain yang merendahkan martabat bangsa, dan hal lain yang merugikan masyarakat, hanyalah pasangan Mega Pro, kedua tokoh nasional ini akan mampu menjadi pemimpin yang baik di negeri ini.

Berapa Besar Peluang Mega Pro dalam Pilpres nanti ?

Sadek : Peluang Mega - Prabowo memang besar, apakah dari hasil survei, jejak pendapat atau prediksi politik, tetapi peluang yang besar ini akan percuma, kalau KPU curang, jadi pemilu dimana-mana didunia, yang menentukan adalah komisi pemilihan umumnya, ataupun suara rakyat yang dihitung dengan benar, tetapi di Indonesia, bukan suara rakyat yang menjadi pemenang, terkadang KPU yang menentukan dalam pemenangan di negeri ini, contohnya LSI, quick count sudah menentukan ini yang menang, itu yang menang, padalah Pemilu belum digelar, suara belum dihitung, ini jelas di Indonesia walaupun peluang Mega Pro besar, tetapi janganlah KPU dan quick count berbuat curang, karena akan menimbulkan gesekan atau pergolakan di negeri ini.

Apa yang tidak baik, dan dianggap gagal dalam pemerintahan SBY – JK selama ini ?

Sadek : saya melihat disudut militer prestasi SBY – JK kurang bagus, karena mengapa anggaran TNI/POLRI sedikit ?, sehingga menimbulkan masalah seperti jatuhnya beberapa pesawat TNI, bahkan Malaysia yang telah mengintervensi wilayah kita, namun Presiden tidak bisa menjawab dengan tegas, sehingga TNI tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang Presiden-lah yang berhak menyatakan perang atau damai. Oleh sebab itu saya anggap lemah dalam hal ini. Disudut ekonomi juga lemah, sehingga mata rantai globalisasi ekonomi asing, telah melilit hingga ke desa-desa, dengan masuknya indomaret, alfa mart, Giant serta swalayan besar yang masuk hingga ke pelosok desa. Bagi pasar mungkin dinilai baik, tetapi bagi rakyat/pengusaha kecil hal itu tidak baik, karena telah menghabisi warung tradisionil yang jutaan jumlahnya, sehingga secara umum itu tidak baik, yang baik adalah bagaimana pasar tradisionil ditambah serta yang ada dikembangkan, rakyat diberi peluang untuk berusaha dan berdagang di negeri ini. Dan yang tidak kita mengerti kenapa kekuatan asing di negeri ini saat ini begitu besar, disegala bidang, kita sangat prihatin, oleh sebab itu kita butuh pemimpin baru yang mampu mengatasi semua persoalan ini. Saya juga menghimbau pada KPU agar memberikan hak pilih kepada seluruh masyarakat yang memang telah memiliki hak pilih, dan KPU janganlah mau diintervensi oleh kakuasaan, berhitunglah dengan benar, agar yang terpilih benar-benar pilihan rakyat, karena kalau KPU curang, maka bencana akan terus berlanjut di negeri ini, karena kebohongan akan menimbulkan murka daripada Tuhan, serta bencana terus terjadi di negeri ini.

Readmore »

 

CALEG PERINDO DPRD DKI DAPIL 9 NO.6

CALEG PERINDO DPRD DKI DAPIL 9 NO.6