Sabtu, 03 Juli 2010

Alumni Ponpes Darunnajah Gelar Tasyakuran 70 th KH. MAHRUS AMIN




Sebagai ungkapan syukur atas perjuangan dan perjalanan hidup Drs. K.H. Mahrus Amin beserta andil para waqif dan keluarga besar dan teman seperjuangan dalam merintis, mengembangkan dan menjaga eksistensi Darunnajah hingga kini, Alumni Darunnajah yang datang dari seluruh wilayah NKRI, menggelar kegiatan Tasyakuran 70 tahun KH. Mahrus Amin. Menurut panitia acara Arsil Ibrahim, acara tersebut juga sebagai bentuk ungkapan syukur dan terimakasih seluruh alumni, kepada pendiri dan pimpinan Pesantren Darunnajah, KH. Mahrus Amien.

Disela acara tersebut juga dilaucnhing buku “70 tahun KH. Mahrus Amien, Kyai Entrepreneur/Sosial entrepreneruship Berbasis Nilai-nilai Agama”, Dalam buku tersebut, berisi sekilas perjuangan KH. Mahrus Amien dalam merintis dan mengembangkan Pondok Pesantren Darunnajah dari tahun perintisannya (1942-1960) serta testimony sejumlah guru, alumni dan tokoh nasional.

Dan yang menarik dalam event Tasyakuran yang digelar pada 3 Juli tersebut, KH. Mahrus Amien didaulat untuk memberikan wejangan dengan format Khutbatul ‘Arsy. Pada saat khutbatul Arsy itu, alumni dianjurkan menggunakan busana ala santri, yakni pria memakai sarung dan berkemeja sementara wanita memakai gamis. Dan ditempat acara panitia juga menggelar pameran foto tempeo doeloe, bazaar, panggung hiburan, dan pembentukan wadah alumni Darunnajah.
Pada para wartawan KH Mahrus Amien menjelaskan, bahwa alumni Ponpes Darunnajah yang tersebar diseluruh Indonesia sudah sekitar lima ribuan, dan mereka telah menduduki posisi di Pemerintahan Pusat dan Daerah, DPRRI/DPRD maupun menjadi Pengusaha serta banyak juga yang menjadi Kyai serta Ustadz, dan kini mereka bersilaturahim ingin membuat program alumni yang lebih kongkrit.

Diakuinya sistem pendidikan di Pondok Pesantren Darunnajah yang dirintis sejak 1939 dan didirikan sejak 1974 ini terus berupaya memperbaiki kurikulum yang digunakan, guna melahirkan calon-calon pemimpin bangsa serta pemimpin umat dimasa globalisasi saat ini, baik pendidikan kepemimpinan, berorganisasi, berpidato bahasa Arab dan Inggris, Kepramukaan maupun pengkembangan tehnologi Informasi, dan anak-anak juga diberikan wawasan tentang Penyalahgunaan Norkoba serta Zat Adektif lainnya, sehingga mereka akan mampu menangkal penyalahgunaan Narkoba.

Pondok Pesantren Darunnajah sebagai salahsatu lembaga pendidikan yang berbasis pesantren yang ada di Indonesia, juga menerapkan konsep perpaduan antara kitab kuning dan pengetahuan modern, menjadikan Darunnajah sebagai pesantren yang memiliki corak dan warna tersendiri. Ini belum termasuk di dalamnya penggunaan bahasa asing yang menjadi bahasa sehari-hari santri.papar Ketua Umum Forum Islamic Center Seluruh Indonesia.

Sebagai seorang ulama, KH Mahrus Amien yang juga Ketua Umum Badan Kerjasama Pondok Pesantren Seluruh Indonesia ini, berkeinginan untuk mendirikan seribu pesantren, atau lebih dikenal dengan “Pesantren Nusantara” dan saat ini bersama para santrinya telah mendirikan enam puluh lebih pesantren yang tersebar diseluruh Indonesia, dan dirinya juga menghimbau pada seluruh Pemerintah daerah, untuk dapat bekerjasama mendirikan pesantren dengan kurikulum sebagaimana yang telah diterapkan di Ponpes Darunnajah, kita siap melatih calon pimpinan Ponpes, jadi jangan orang jawa saja yang nanti menjadi pimpinan Ponpes di daerah-daerah, tapi biarlah putra daerah setempat yang menjadi pengasuhnya.

Salahsatu sasaran utama adalah mendirikan Pesantren di daerah perbatasan negara lain, bagaimana di daerah perbatasan tersebut, nantinya juga lahir kader-kader umat yang lahir dari Pesantren, kini Pesantren Darunnajah juga telah menekankan ajaran wawasan nusantara dan cinta tanah air sejak dini, sehingga mereka nanti mereka akan mampu menjadi pemimpin yang amanah dan tetap cinta NKRI, para calon pimpinan Pesantren dari daerah, bisa magang untuk memahami menejemen kepemimpinan dari TPA hingga MA, di pondok pesantren di Darunnajah, jl Ulujami Raya no.86 Jakarta Selatan ini, papar Drs.KH Marhus Amien.

0 komentar:

Poskan Komentar