Kamis, 06 Oktober 2016

BNPB Inisiasi Kerjasama Pemanfaatan UAV/Drone di Bidang Penanggulangan Bencana

BNPB Inisiasi Kerjasama Pemanfaatan UAV/Drone di Bidang Penanggulangan Bencana*

BNPB melakukan inisiasi kerjasama dengan berbagai pihak dalam pemanfaatan UAV/Drone di bidang penanggulangan bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memanfaatkan UAV bukan hanya sebatas pada kaji cepat tetapi juga pemetaan secara near real time untuk analisis kebencanaan sehingga target pemerintah dalam pengurangan risiko bencana dapat terbantu.

Terkait dengan pemanfaatan Unmanned Aerial Vehichle (UAV) atau drone, Presiden RI Joko ‘Jokowi’ Widodo memberikan tanggapan positif terhadap hasil pemetaan melalui teknologi ini. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BNPB Willem Rampangilei pada saat melakukan presentasi hasil UAV di hadapan Presiden Jokowi pada kunjungan pascabencana banjir bandang Garut pada Kamis lalu (29/9) di Pos Komando Tanggap Darurat Garut.

Sementara itu, pada sambutan pembukaan Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Tri Budiarto mengatakan bahwa kerjasama dan kolaborasi untuk memaksimalkan fungsi UAV telah menjadi kebutuhan mendesak BNPB dan pengiat UAV.

“Kerjasama yang dilakukan baik berupa saling berbagi dalam metode pelaksanaan, pemanfaatan hasil, maupun dari sisi cakupan wilayah, khususnya ketika terjadi bencana, demi kemanusiaan,” kata Tri pada acara Seminar Pemanfaatan UAV/Drone untuk Penanggulangan Bencana pada Kamis (6/10) di Graha BNPB, Jakarta.

Sebelumnya, kegiatan pemotretan dan pemetaan bersama menggunakan UAV antara BNPB, BIG, dan BPPT, termasuk berbagi data serta hasil analisisnya telah dilaksakanan pada kejadian bencana longsor dan banjir bandang di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang akhir Juni lalu. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama yang bagus, terutama bagi penggiat UAV/drone di kalangan pemerintah, khususnya yang bergerak di kebencanaan dan kemanusiaan.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa penyelenggaraan seminar ini sebagai sarana koordinasi dan kolaborasi di antara penggiat UAV/drone, baik di lingkungan instansi pemerintah, akademisi, maupun pelaku kebencanaan yang lain. 

Menurut Sutopo, pemanfaatan drone memiliki banyak keuntungan dari sisi waktu, biaya, jumlah personel sebagai operator, maupun risiko di lapangan.

Teknologi drone masih relatif baru untuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Namun perkembangan teknologi ini sangat cepat. BPPT mengembangkan drone dengan fokus pengetahuan. 

Hal tersebut dicontohkan hasil pemotretan dengan drone berteknologi GPS dan kamera beresolusi tinggi mampu menangkap benda yang sangat kecil. 

Agus Kristijono dari BPPT mengkisahkan bagaimana teknologi drone mampu memotret rekahan dari ketinggian. “Rekahan dapat diamati dari darat dan udara, kemudian kita gabungkan. Hasil kita berikan kepada BNPB dan pemerintah daerah. Dari hasil pemotretan, kita dapat melihat secara geomorfologi bahwa lokasi terdampak seperti mangkok.
 Pengetahuan ini yang akan kita sampaikan,” kata Agus mengenai kontribusi drone pascabencana banjir Garut. 

Sementara itu, Badan Informasi Geospasial (BIG) juga menggunakan teknologi drone dalam konteks tematik.

Memang melalui teknologi ini, pemetaan spasial dapat dilakukan secara cepat. BIG turut mendukung BNPB dalam pemetaan seperti pada bencana erupsi Gunung Sinabung 2013 maupun institusi KPK dalam konteks menganalisis kerugian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah. Kita optimalkan teknologi ini bersama-sama. BIG juga memiliki tim reaksi cepat untuk membantu BNPB terkait pemetaan dasar tematik, ujar Yoniar Hufan, narasumber BIG pada acara seminar tersebut. 
 
Koordinasi dan kolaborasi yang dilakukan khususnya dalam upaya penanggulangan bencana. BNPB mengharapkan setelah seminar ini akan terbentuk Forum UAV for Humanitarian, ungkap Sutopo. Seminar ini menghadirkan beberapa narasumber BNPB, BIG, BPP, BPPT, Lapan, TNI AD, UGM, dan Ketua Forum PRB Jawa Barat. (Nurul

0 komentar:

Posting Komentar