Kamis, 13 Oktober 2016

Dialog Lintas Agama Ciptakan Pilkada Damai

Bertempat di Gedung Juang 45, Menteng, Jakarta, tokoh-tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Pemuda menggelar Deklarasi Pilkada Damai, hal tersebut dilakukan setelah menggelar Diskusi dan terjadi kesepakatan.

Butir - butir deklarasi juga hasil diskusi tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Pemuda, yang meminta politisi agar menjaga persatuan dan kesatuan, semua harus menjaga ketertiban dan keamanan, Isu sara harus di hindari, Cagub agar memaparkan program terbaik,dalam memimpin daerahnya, tegas Gus Sholeh saat jumpa Pers usai Deklarasi.

Direktur Yayasan Peduli Kasih, Y.W Junardy pada wartawan juga menegaskan, bahwa Pilkada serantak tahun 2017 nanti, haruslah dianggap sebagai bentuk Pesta Demokrasi yang harus sukses untuk memilih pemimpin daerah, baik Gubernur, Walikota maupun Bupati, jadi seluruh masyarakat dan komponen di dalamnya harus bisa menyelenggarakan dengan cara damai, aman sesuai prosedur yang sudah di atur dalam UU Pilkada, jangan main intrik, jangan menistakan pihak lawan, tetapi harus menonjolkan program yang akan diusung, demikian juga masyarakat pemilih, juga harus jeli dalam melihat program yang di usung, bagaimana mereka akan membuat strategi maupun mengelola sebuah pemerintahan, dari sudut ekonomi, budaya, sosial, hukum maupun politik, bagaimana suatu daerah memiliki program berkelanjutan, untuk keadilan sosial masyarakatnya.

Menanggapi adanya isu SARA yang kini sudah bergulir di DKI Jakarta, Junardy meminta pada masyarakat untuk tetap tidak terprovokasi, dan janganlan menggunakan sara sebagai model pilihan, tetapi harus lebih rasional melihat program maupun strategi calon gubernur jika nantinya terpilih, sehingga masyarakat akan lebih sejahtera dan daerahnya juga semakin maju, tegasnya.

Ditempat yang sama, Direktur Eksekutif Jakarta Center yang juga Waketum Aliansi Indonesia,  Norman Sopan juga menegaskan, bahwa cara-cara menjatuhkan lawan dengan isu SARA, bukanlah cara yang baik, marilah kembali pada falsafah sebagai orang Indonesia, mari kembali pada jatidiri bangsa Indonesia, yang berazaskan pada Pancasila, tokoh-tokoh Agama hendaknya menyampaikan hal yang baik dalam Pilkada serentak ini, dengan menegaskan bahwa NKRI merupakan satu kesatuan, dan kita Bhineka Tunggal Ika, meski berbeda suku, ras maupun Agama, tetapi kita adalah satu saudara, kita boleh berdemokrasi tetapi jangan membawa isu SARA. Kita boleh fanatik tetapi jangan sempit, ciptakan kerukunan dan saling menghormati, bangsa ini bisa berdiri kokoh sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, justru karena berbeda-beda tetapi tetapi satu bangsa, satu bahasa, dalam Pilkada silahkan gunakan Hak Pilih, tetapi jangan memaksakan orang lain untuk memilih salahsatu calon, karena Pilkada adalah memilih pemimpin kepala daerah, dan bukan memilih pemimpin agama, tetapi lebih memilih pemimpin untuk manajemen kota, jadi jangan membawa-bawa Agama dalam Pilkada 2017 nanti, tegas KP Norman. (Nurul).



0 komentar:

Posting Komentar