Kamis, 17 November 2016

STP Trisakti Gelar Tourism Gastronomy Destination International Conference

STP Trisakti Gelar Tourism Gastronomy Destination International Conference


Bertempat di Jakarta Convention Center (JCC), pada 14-15 November 2016, Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti bersama Gabungan Industri Pariwisata Indonesia serta Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, menggelar Tourism Gastronomy Destination International Conference.

Menurut Ketua STP Trisakti, Fetty Asmaniati, SE, MM, bahwa Konfrensi dan Seminar Tourism Gastronomy Destination International Conference (TGDIC), ini merupakan rangkaian Dies Natalis STP Trisakti ke 47, dan kita akan menyiapkan ulang tahun Emas ke 50 tahun, untuk itu STP Trisakti dalam kegiatannya akan diarahkan ke kegiatan internasional, dan kegiatan TGDIC berjalan, juga atas dukungan beberapa lembaga pendidikan tinggi dari luar negeri, seperti Professor Michael Hitchcock dari University of London, Professor Theodore Benetatos dari IMI University Centre, Switzerland dan pakar-pakar internasional lainnya.

Mereka akan membicarakan berbagai topic pembahasan menarik bidang Destinasi Pariwisata dan Pariwisata Gastronomi serta akan memberikan paparan trend dunia bersama dengan pakar-pakar nasional seperti Adrian Ishak, pakar Fine Dining Indonesia, Sisca Soewitomo, Praktisi Industri Kuliner, Rosan Roslani, Ketua KADIN Indonesia dan banyak lagi pembicara.


Seminar Internasional dengan pembicara Pakar Destinasi Pariwisata dan Gastronomi ini, hasilnya juga akan disampaikan pada Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata RI, sehingga diharapkan dapat membantu pencapaian kunjungan wisata, baik wisatawan domestik maupun mancanegara, dibidang pengabdian masyarakat dalam pengembangan pariwisata tanah air, STP Trisakti juga memiliki binaan-binaan desa wisata, dengan meminta pada dasa wisata untuk tetap mempertahankan dan mengembangkan menu kuliner tradisional, kita memberikan pelatihan cara menyajikan yang baik, sehat, bersih serta bergizi, jadi jika ada kunjungan wisatawan asing, maka harus tetap menyajikan menu tradisional, ungkap Fetty Asmaniati, SE, MM.

Ketua Yayasan Trisakti Dr. Djanadi Bimo Prakoso.MSi juga menambahkan, bahwa apa yang dilakukan Yayasan Pendidikan Trisakti, adalah upaya untuk mensejahterakan rakyat, dan Pemerintah telah menargetkan kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia berjumlah 20 juta pada tahun ini, disinilah perlu upaya untuk memberdayakan masyarakat, pariwisata harus dikemas dengan baik, sehingga ada nilai tambah, contohnya menjual cabe, kalau dijual di pasar mungkin nilainya murah, tetapi kalau yang beli memetik sendiri, maka akan bernilai lebih, paparnya.

Disamping itu para Dosen juga Mahasiswa STP Trisakti terus melakukan riset, di evaluasi yang kemudian menjadi bahan ajaran, dan dalam pengabdian masyarakat kita benar-benar mengabdi, saat ini kita telah memiliki 9 desa binaan, baik di Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY maupun Madura, dengan menonjolkan potensi wisata di masing-masing daerah, melalui laboratorium di STP Trisakti, juga terus dilakukan penelitian kandungan gizi produk makanan tradisional, sehingga Yayasan terus berupaya agar STP Trisakti tetap yang terbaik, ungkap Ketua Yayasan Trisakti Dr. Djanadi Bimo Prakoso.

Sementara usai memberikan paparan, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, Kementerian Pariwisata RI, Dadang Rizki Ratman, pada wartawan juga menegaskan, bahwa dengan kegiatan International Conference ini diharapkan juga dapat menjadi ajang promosi pariwisata Indonesia ke Mancanegara, serta menambah ilmu pengetahuan, bagaimana menata Destinasi dengan baik, karena turis lebih suka tempat wisata kulinar yang bersih, sehat dikemas dengan baik, kita punya banyak makanan yang nikmat, ada empek-empek, Gudeg Jogja, Bandeng Juwana serta makanan tradisional lainnya, peran lembaga pendidikan adalah bagaimana dapat membantu dunia usaha dalam meningkatkan kualitas produknya, pelayanannya dan kualitas pengelolaannya, dan satu hal yang juga penting adalah bagaimana dorongan pemerintah daerah untuk mendukung sentra kuliner di daerah, jadi bukan sekedar menutup jalan dan diberikan bagi pedagang makanan, tetapi bagaimana Pemerintah Daerah dapat membangun sentra kuliner yang luas,

didukung dengan fasilitas Parkir, akses transportasi yang baik, da nada penampilan kesenian tradisional yang juga dikemas dengan baik, jadi turis yang berkunjung bukan sekedar menikmati kuliner saja, tetapi juga memperoleh suguhan budaya, ini butuh semangat dan gotong-royong dengan misi yang sama dalam pengembangan wisata dan mengangkat Wisata Kuliner daerah, pinta Dadang Rizki Ratman. (Nl).

0 komentar:

Posting Komentar