Kamis, 02 Februari 2017

Mungkinkah Industri Musik Indonesia Berkembang Diera Teknologi Informatika ?


Mungkinkah Industri Musik Indonesia Berkembang Diera Teknologi Informatika ?

Perkembangan Teknologi Informatika sudah tidak bisa dibendung, arus globalisasi juga berdampak serius pada Industri Musik di tanah air, untuk menyoroti hal tersebut, wartanusantara.com mencoba mengurai masalah Industi Musik bersama Pengamat Musik yang juga Pencipta Lagu yang sangat dikenal, yaitu Bens Leo, berikut petikan wawancaranya.

Teknologi Informatika melalui Media Sosial serta Internet berkembang sangat pesat dan sudah tidak bisa dibendung, menurut Anda sampai sejauhmana dampaknya pada Industri Musik di Indonesia ?

Bens Leo :
Era digital Musik di Indonesia sudah berkembang mulai tahun 2005, awalnya Ring Back Tone (RBT), kemudian masuk bentuk Streaming, Melom, iThon, serta yang lain, ini harus disikapi bahwa industri musik tidak boleh berhenti, karena itulah para musisi harus bisa memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang semakin berkembang, apakah melalui Youtube, Instagram, Facebook serta yang lain, karena kalau tidak memanfaatkan perkembangan TI, kalau tidak mempromosikan seperti itu dan tidak berkarya lagi, maka akan mati.

Persaingan seperti apa yang timbul ?

Bens Leo :
Saat ini kompetisinya akan semakin ketet, karena semakin banyak yang ingin tampil sebagai seniman musik, apakah itu penyanyi, musisi maupun pencipta lagu, dengan begitu yang memiliki karakter kuatlah yang semakin eksis, dan konsumen akan selektif memilih artis faforit dia, sehingga persaingan sangat ketat, bahkan Band Indie yang notabene Nonlabel juga tetap Eksis, demikian juga Film dengan diiringi musik, ini membuktikan bahwa yang menggunakan unsur musik, masih tetap laku.

Perkembangan Teknologi Informatika tersebut, sebenarnya lebih menguntungkan industri musik, apa justru merugikan ?

Bens Leo :
Tergantung bagaimana meraka memanage, kalau mereka bisa surfive menguntungkan sekali, seperti Indie yang mencipta lagu sendiri, menyanyikan sendiri, merekam sendiri, membiayai sendiri bahkan memasarkan sendiri tanpa label, seperti Tulus Rusyidi, mereka akan bisa eksis.

Apakah industri lagu anak juga bisa berkembang ?

Bens Leo :
Lagu anak tetap eksis, meskipun industri rekaman menganggap lagu anak-anak tidak laku, namun banyak orang tua yang merasa anaknya bisa nyanyi dan punya bakat, mau mendorong anaknya mencoba berkarier melalui musik, dengan mencarikan lagu buat anaknya, kemudian merekam dan memasarkannya melalui CD non label, dengan menjual memalui jaringan Medsos maupun menjual saat tampil di panggung, maupun mengapload ke Media Sosial, ini cukup bagus dan juga harus di apresiasi.


Industri Musik di Era Teknologi Informatika saat ini, sepertinya belum dimanfaatkan para Musisi Indo Label maupun Pencipta Lagu ?

Bens Leo :
Kalau industri musik memang setelah era digital bergerak lebih bebas lagi, karena sudah tidak lagi terikat dengan “Label”, sehingga kekuatan itu lebih pada manajemennya, kalau manajemen artisnya ngak kuat, atau ngak punya karakter kuat maka susah bersaing, dan akan tergilas oleh persiangan yang ketat ini.

Beberapa Stasiun Televisi telah membuat penjaringan Penyanyi, apa hal tersebut mampu meningkatkan industri musik di tanah air ?

Bens Leo :
Audisi Musik di Televisi memang suatu potensi yang bagus, Indosiar telah membuat Dangdut Academy, sehingga musiK Dangdut ada regenerasi, dan ada pertumbuhan musik Dangdut, karena tidak mungkin penyanyi baru, tidak dipasok lagu-lagu baru, sehingga musik dangdut tetap berkembang, memang ada di musik Pok, seperti di RCTI, namun tidak seperti Indonesian Idol dahulu, karena Indonesian Idol diambil internasional, sehingga sangat popular, dan RCTI saat ini membuat program lain. Beberapa TV saat ini juga melakukan kontrak artis hasil kompetisi mereka, namun terlalu lama, sehingga mereka tidak jadi bintang, jadi kontrak itu yang saya dengar sampai 3 tahun, dan yang jadi masalah pemenang kontes musik tersebut, malah terjun ke dunia sinetron, seringkali kita lihat pemenang kompetisi nyanyi justru mereka terlihat main di sinetron buka penyanyi, inilah yang berbahaya kalau mereka terikat dengan dunia sinetron, dan terjadi persaingan, dan yang lebih  menyedihkan kalau mereka hasil audisi satu televisi, tidak boleh tampil di televisi lain. Lingkaran ini seharusnya dihilangkan, kalau di Amerika, misalkan ada pemenang di American Idol, maka dia poluler secara nasional, dan dia setelah membuat Album, maka akan poluler mendunia, jadi saat ini memang ada persaingan antar televisi Indonesia, sehingga terjadi pengkotak-kotakkan para  seniman dari hasil kompetisi seperti itu, itulah seharusnya seperti itu tidak boleh terjadi. Mudah-mudahan kedepan kontrak tidak terlalu panjang, sehingga kesempatan mereka untuk popular ada kesempatan, setelah mereka keluar dari kontes musik yang mereka menangi.

Bagaimana anda melihat Peran Pemerintah saat ini dalam mengembangkan Industri Musik di Indonesia ?

Bens Leo :
Sebetulnya Pemerintah yang telah membentuk Lembaga Industri Kreatif yang saat itu berada dibawah Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif, ini adalah niat baik pemerintah, sehingga ada wadah para seniman melakukan eksplorasi, dan sekarang sudah dipisahkan dari Kementrian Pariwisata dan dibentuklah Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), sekarang sudah tahun kedua, namun belum ada gebrakan dan belum menonjol, namun saya yakin dan tetap optimis, Pimpinan Kepala Bekrap, Triawan Munaf akan melakukan sesuatu, karena beliau sudah melakukan kerjasama dengan seluruh seniman, dan di seni budaya juga ada Mendikbud, dulu Kemendikbud juga pernah membuat lomba menyanyi dan membuat lagu anak, dan akhirnya dengan kegiatan itu juga lahir penyanyi-penyanyi cilik.(Nurul)

0 komentar:

Posting Komentar