Selasa, 04 April 2017

UKI GELAR SEMINAR KEBANGSAAN : "MERAWAT KEMAJEMUKAN DALAM BINGKAI NKRI"

SEMINAR KEBANGSAAN : "MERAWAT KEMAJEMUKAN DALAM BINGKAI NKRI"

Jakarta, 5 April 2017 Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang menganut sistem demokrasi. karena demokrasi merupakan sistem yang sangat tepat bagi Indonesia yang masyarakatnya sangat beraneka ragam, baik secara kultur maupun secara bahasa, dan negara dengan ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke Tentunya semua itu menjadi ciri khas Indonesia yang majemuk. Kemajemukan Indonesia tidak bisa kita biarkan begitu saja akan tetapi harus kita jaga dan pertahankan.

Kalau kita melihat masyarakat Indonesia saat ini dalam upaya mengekspresikan keinginannya terlihat seakan bebas berekspresi tanpa batas. Hal tersebut tentunya mengakibatkan konflik yang sering terjadi di berbagai daerah. Konflik-konflik itu ada yang mengatasnamakan suku, ras, maupun agama. Terkadang sentimen suku, agama dan ras selalu menjadi isu sensitif dalam hal apapun yang dapat menimbulkan konflik.

Contoh kecilnya adalah di Indonesia persoalan agama selalu menjadi pokok bahan pertimbangan dalam membuat setiap keputusan.

Demikian pula dengan masalah suku dan ras menjadi sebuah isu yang selalu menarik dalam persoalan di tengah-tengah masyarakat. 

Menanggapi hal demikian, Rabu (5/4) bertempat di Auditorium Graha William Soeryadjaya UKI Jln. Mayjen Sutoyo No.2, Cawang Jakarta Timur, Unit Pelayanan Kerohanian dan Konseling Universitas Kristen Indonesia menyelenggarakan Seminar Kebangsaan dengan mengangkat tema: “Merawat Kemajemukan Dalam Bingkai NKRI”.

Seminar ini merupakan salah satu prasyarat terwujudnya masyarakat modern yang demokratis. Dengan harapan untuk mewujudkan masyarakat yang menghargai kemajemukan Bangsa. 

“Acara ini diselenggarakan sebagai ruang diskusi untuk semua lapisan masyarakat, dengan turut menghadirkan pembicara-pembicara yang berkompeten dibidangnya antara lain: 

1. Romo Antonius Benny Susetyo Pr (Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan/HAK Konferensi Wali Gereja Indonesia).

2. Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid (Direktur Wahid Institute dan Aktivis Islam dan Politisi Indonesia) 

3. Dr. Refly Harun, S.H.. M.H., LL.M. (Pakar Hukum dan Tata Negara & Pengamat Politik) 

4. Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe (Senior Fellow Institute Leimena).

Semoga pesan-pesan yang disampaikan dalam Seminar Kebangsaan ini, gaungnya mampu mencapai pelosok negeri dan mengingatkan kita semua agar berupaya kembali kepada Pancasila dan jati diri Bangsa Indonesia yang majemukNrlry).

0 komentar:

Posting Komentar