Senin, 22 Mei 2017

Dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri, Sekolah Dirgantara Pilot School Tasikmalaya (DPST) Menelantarkan 36 orang siswanya

Dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri, Sekolah Dirgantara Pilot School Tasikmalaya (DPST) Menelantarkan 36 orang siswanya

Menjadi Pilot adalah impian kebanyakan orang terutama kaum laki-laki. Dan bahkan ada juga kaum hawa yang mencoba untuk mengadu nasib di profesi ini. Selain daripada sekolahnya cukup singkat, lapangan pekerjaan sangat terbuka lebar tentu disertai dengan penghasilan yang cukup fantastis dibanding dengan profesi lainnya pada umumnya. 

Dari janji iklan Sekolah Pilot Dirgantara Pilot School Tasikmalaya (DPST) Tidak kurang dari 36 orang anak didik telah mendaftarkan dirinya untuk menjadi siswa di sekolah Dirgantara Pilot School Tasikmalaya tersebut.
Para calon Pilot Penerbang telah masuk ada yang masuk dari bulan Juli Tahun 2014, dan ada juga yang masuk mulai 16 Mei 2016, tentu dengan harapan setelah lulus dari Sekolah DPST bentukan dan milik PT. Dirgantara Aviation Engineering (PT. DAE) yang dipimpin oleh Marsma TNI (Purn) H. Wasito ini, dapat menjadi Pilot Profesional.

Bahkan lebih jauh dari itu diharapkan mampu menerbangkan pesawat Boeing 373 series, Airbus 320 Series, Embraer, atau Bombardier. Hingga meningkat ke Pesawat berbadan lebar, yaitu Boeing 777 Series, Boeing 747 Series, Airbus 330 dan Airbus 380, itulah janji yang pemah diucapkan oleh Marsma (Purn) H. Wasito ( Sumber : Tempo.co, Jakarta) tanggal 7 Juli 2013. 

Namun kenyataan yang terjadi, anak didik tersebut sudah hampir 1 (satu) tahun tidak bisa lagi melanjutkan pendidíkannya di DPST dengan alasan kesulitan keuangan. Padahal anak-anak didik ini sudah membayar sebagian besar uang sekolahnya, tidak ada yang terlambat bayar dan bahkan ada yang telah lunas dari kisaran biaya pendidikan seluruhnya kurang lebih Rp. 770,000,000. (tujuh ratus tujuh puluh juta rupiah) per orang, dengan jangka waktu 18 bulan. Dan seharusnya anak-anak ini sudah ada yang tamat tapi harus kandas ditengah jalan. 
Tidak dapat dibayangkan, bagaimana kecewanya anak-anak dan para orang tua mereka yang sudah berharap dan menyerahkan nasib pendidikan dan juga kariemya di DPST dengan mengeluarkan uang ratusan juta per anak. 

Dari 36 orang anak sekolah Pilot yang gagal tersebut, diantaranya ada 20 orang tuanya telah memberikan kuasa ke kantor kami dengan jumlah kerugian lebih kurang sebesar Rp. l0,898,800,000. (sepuluh milyard delapan ratus sembilan puluh delapan juta delapan ratus ribu rupiah), ungkap M Salahuddin Abdullah SH kuasa hukum orang tua siswa DPST.

Lebih jauh dijelaskan bahwa para orang tua murid sudah berkali-kali menemui Direktur Utama PT. Dirgamara Aviation Engineering Marsma (Pum) H. Wasito menanyakan tentang kelanjutan Sekolah yang sudah setahun ini tidak aktif, namun sampai saat ini tidak pernah mendapatkan jawaban yang pasti. 

Berdasarkan alasan itulah, kami dari Kami M SALAHUDDIN ABDULLAH & PARTNERS, yang berkantor di jalan raya Tengah 4 Pasar Rebo Jakarta Timur bersama beberapa orang tua siswa dan beberapa orang siswa sebagai korban dan sekolah Dirgantara Pilot School Tasikmalaya (DPST) yang merupakan bentukan dan milik dari PT. Dirgantara Aviation Engineering (PTDAE) yang berkantor Pusat di Jl Sukaraja 11/229-Bandung 40175, dan berkamor cabang di 11. Angkasa 1 No.9 Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur ini, Hari ini Melaporkan Marsma (Purn) H. Wasito sebagai Direktur Utama PT. DAE ke Bareskrim Mabes Polri dengan tuduhan dugaan melakukan Penipuan terhadap orang tua murid dan anak-anak mereka.
Kita bersyukur laporan tindak pidana ini bisa diterima jajaran Reskrim Mabes Pilri dan akan ditindaklanjuti serta di proses secara Hukum, papar M Salahuddin Abdullah SH. (NRL)

0 komentar:

Posting Komentar