Sabtu, 06 Mei 2017

STP Trisakti Gelar Workshop Nasional Tata Kelola Jurnal Terakreditasi


STP Trisakti Gelar Workshop Nasional Tata Kelola Jurnal Terakreditasi


Bertempat di Kampus Pesona Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Bintaro Jakarta Selatan, STP Trisakti pada Sabtu 6 Mei 2017, menggelar Workshop Nasional Tata Kelola Jurnal Terakreditasi Dan Terindeks Internasional.

Workshop tersebut menghadirkan dua Pembicara, diantaranya Dr. Lukman ST.M.Hum dengan makalah "Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Jurnal Ilmiah serta Heppy Chandraleka ST dengan membedah "Manajemen Penerbitan Jurnal Elektronik".

Ketua Panitia Workshop, Ali Hamsari disela acara tersebut menjelaskan, bahwa selama ini masih banyak lembaga pendidikan tinggi maupun perseorangan yang belum memiliki aplikasi yang dimiliki, dan belum tau betul akan kebijakan Jurnal Ilmiah pada penerbitan Elektronik, bahkan banyak artikel ilmiah yang belum sesuai dengan ketentuan yang ada pada Kemenristek Dikti, bahkan tata kelola yang sudah ada, belum sesuai dengan standar yang di tentukan, untuk itu STP Trisakti dan Sekolah Tinggi Manajemen Trisakti terpanggil untuk menggelar Workshop ini.

Kita bersyukur ada 45 peserta dari berbagai Perguruan Tingi di Indonesia, dan peserta bukan cuma dari Jakarta atau Jabodetabek, tetapi ada dari Serang, Bekasi,  Aceh, Jambi bahkan dari Surabaya dan ada dari Bandung serta Ambon,  Jadi mereka yang di luar Jakarta merasa butuh, bela-belain jauh-jauh datang ke sini, karena mereka memang ingin agar tata kelola Jurnal Ilmiah Elektronik dapat terakreditasi sebagaimana ketentuan yang ada, paparnya.

Dr. Lukman ST.M.Hum Peneliti LIPI disela acara pada wartawan juga menegaskan, bahwa kebijakan Jurnal Elektronik ini akan membantu Lembaga Pendidikan Tinggi dalam meningkatkan kualitas Dosen maupun Guru Besar, karena penilaian nantinya bukan melihat Gedung yang mewah, tetapi sampai sejauhmana Karya Ilmiah para dosen, dan perubahan dari Cetak menjadi Digital ini akan dapat memudahkan masyarakat Nasional maupun internasional untuk menilainya, kalau Karya Ilmiah yang dicetak dengan persyaratan 300 Exsemplar, maka karya tersebut hanya dibaca paling banyak 300 orang, tetapi kalau dicetak dalam bentuk Digital, maka akan ada ribuan atau bahkan jutaan orang yang bisa membacanya, bahkan masyarakat internasional juga akan mengerti sampai sejauh mana Karya Ilmiah sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi tersebut, tegas Dr Lukman.(Nrl).

0 komentar:

Posting Komentar