PENGUKUHAN KETUA KAUM AGUNG PEKAL OLEH KETUA MASYARAKAT ADAT MUKO-MUKO,BENGKULU UTARA

PENGUKUHAN KETUA KAUM AGUNG PEKAL OLEH KETUA MASYARAKAT ADAT MUKO-MUKO,BENGKULU UTARA

Sebelum Kedatangan bangsa asing ke Bengkulu sekitar abad ke-14, di Bengkulu sudah berdiri kerajaan-kerajaan dan salah satunya adalah Kerajaan Mukomuko dengan batas Mukomuko dengan Kerinci, ialah darei renah sianit sampai bukit setinjau laut. Raja pertama di Mukomuko adalah Raja Adil, raja ke dua Rajo mudo kawin penekan sang depati laut tawar, raja ke tiga Maharaja gedang dengan penakan sang depati laut tawar, yaitu Tuanku Paduko Sarie Maharaja, Sultan Gadam Sah (1681 – 1761) dilanjutkan Tuanku Sultan Sarie Maharaja, Pasissir Barat Sah (1761 – 1806), Tuanku Sarie Maharaja Sultan, Chalipattullah Indijat Sah (1806 – 1833), Tuanku Sarie Maharaja Sultan, Hidaijat Tula Sah (1833 – 1836) serta Tuanku Sarie Maharaja Sultan, Takadir Chalipattullah Sah (1836 – 1859).

Dan untuk membangun kembali semangat membangun Mukomuko, akan digelar Perhelatan Akbar Pengukuhan Ketua Kaum Agung Pekal oleh Ketua Masyarakat Adat Muko-M uko Bengkulu Utara, Ipuh Sebelat dan Ketahun, pada Sabtu (29 Juli 2017), serta akan dilakukan Penganugerahan Gelar dari Duli Yang Amat Mulia Daulat Yang Di Pertuan Raja Ala Minangkabau Pagaruyung Darul Qoror Sultan H Thaufik Thaib, SH, Tuanku Maharajo Sakti kepada Sultan Bangsa dengan Gelar Sultan Gulamatsyah II.

Acara Penganugerahan serta Pengukuhan Akbar tersebut, rencana akan dihadiri Sultan-sultan dan Raja-raja Nusantara bahkan dihadiri Tamu Agung dari Malaysia.

Menurut YM. H. Sultan Bangsa SH. MH bahwa gelar adat budaya tradisi ini harus dihidupkan dan ditanamkan kepada masyarakat kaum pekal muko-muko. Wilayah Kerajaan Muko-Muko terbentang ketimur berbatasan dengan urai kecamatan ketahun kabupaten Bengkulu Utara, sebelah barat berbatasan dengan lautan Hindia, sebelah timur berbatasan dengan provinsi Jambi, Kerajaan Muko-muko pernah mengalami kejayaannya pada masa lalu.

Seperti kita ketahui bersama Bengkulu di zamannya prakemerdekaan dijajah oleh Kerajaan Inggris dan terjadi tukar-menukar dengan Singapura, Singapura diambil oleh Inggris dan Bengkulu diambil oleh Belanda. Dilihat dari majunya ekonomi Singapura seharusnya Provinsi Bengkulu sudah maju seperti Singapura sejak awal abad ke 17. Dilihat dari potensi alam bengkulu dan potensi Sumber Daya Manusia yang belum banyak tergali melalui Kaum Pekal dan Kesultanan Muko-muko bersama pemerintah daerah akan memajukan Provinsi Bengkulu.

Pada Perhelatan Akbar ini akan dihadiri oleh Organisasi Majelis Agung Raja Sultan Indonesia, Majelis Cendikiawan Keraton Nusantara dan Komunitas Koperasi Mahkota Nusantera Sejahtera, dimana H. Sultan Bangsa SH,MH menjadi ketuanya.

Sementara Raja-raja yang akan hadir, Duli Yang Amat Mulia Daulat Yang Di Pertuan Raja Alam Minangkabau Pagaruyung Darul Qoror Sultan H. Thaufik Thaib SH, Tuanku Maharajo Sakti. Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, Ketua Umum Yayasan Raja Sultan Nusantara. Prof. Dr. M. Asdar, Ketua Presidium Nasional Majelis Cindikiawan Keraton Nusantara. Dr. Yosand, Kepala Adat Bone Sulawesi Selatan.

Pengeran Nata Adiguna, Masu Thoyib Jayakarta Adiningrat, Sekjen Yarasutra/ Sekretaris Presidium Majelis Cendikiawan Keraton Nusantara dari Kedaton Nusantara Jakarta.

Kanjeng Pangeran Norman Hadinegoro, ketua Umum PERNUSA dan dewan pakar Forum Silahturahmi Keraton Nusantara yang mendapat gelar pengeran dari Keraton Surakarta, serta undangan lainnya yang berdatangan dari segala penjuru tanah air.

Sebuah perhelatan akbar yang akan membangkitkan kejayaan kebudayaan Kaum Agung Pekal yang dahulu pernah jaya. Dengan Kesultanan Muko-muko akan lahir renaissance Budaya Bengkulu. Melalui Kaum Agung Pekal yang wilayahnya meliputi muko-muko, Bengkulu Utara, Ipuh, Seblat dan Ketahun diharapkan menjadi Jaya kembali sehingga bisa menjadi tujuan wisata nusantara (winus) dan wisata mancanegara (wisman).
(Nurul)

0 komentar:

Posting Komentar