Rabu, 11 Oktober 2017

5 Masalah Besar Yang Berpotensi Menghancurkan Bangsa dan Negara

5 Masalah Besar Yang Berpotensi Menghancurkan Bangsa dan Negara

Indonesia dengan jumlah Penduduk mencapai 250 juta jiwa serta dengan sumber daya alam yang melimpah dan tanah yang subur, telah menjadi incaran negara-negara lain untuk menguasainya, penjajahan gaya baru mulai terlihat dengan penguasaan tanah di berbagai daerah di Indonesia serta menjadikan Indonesia sebagai pangsa pasar produk-produk mereka, berbagai cara dilakukan untuk menguasai Indonesia, untuk itulah Ketua Umum Laskar Sriwijaya yang juga Ketua Dewan Pembina GM Sriwijaya, Sadek Suloso Hasbi ingin memberikan masukan bagi seluruh komponen bangsa, bahwa ada 5 Masalah Besar yang berpotensi menghancurkan Bangsa dan Negara.

Masalah yang pertama adalah Masalah Narkoba, bahwa Penyalahgunaan Narkotika, Obat-obatan dan Zat Adektif lainya sebenarnya sudah diketahui oleh seluruh elemen di negarai ini, terutama Polri dan TNI, juga seluruh pemuda Indonesia bawa Narkoba itu sangat berpotensi menghancurkan negeri ini, satu dengan masuknya ratusan kilogram bahkan berton-ton narkoba dalam setahun di negeri ini, akibatnya akan menyedot APBN di negeri ini, karena apapun kerja, apapun urusan di negeri ini pada akhirnya akan berakhir pada APBN, akan menelan puluhan triliun secara Ekonomi, secara moral dan fisik akan menghancurkan puluhan juta Generasi muda Indonesia. Apakah itu Pelajar, mahasiswa dan lain sebagainya, yang pasti akan menghancurkan. Kalau tidak percaya silahkan lihat buktinya di seluruh rumah sakit dan pusat rehabilitasi Narkoba.

Kalau seandainya para pemuda Indonesia, penanggung jawab masa depan hancur moralnya, hancur fisiknya, kemudian menyedot anggaran keuangan negara karena untuk mengobati satu orang saja itu memerlukan dana ratusan juta, kita perlu pahami bahwa Narkoba berpotensi menghancurkan negara dan bangsa dalam beberapa tahun kedepan.

Sumbang saran dari kami, sebagai elemen daripada bangsa ini supaya ada hukuman mati untuk mereka mereka yang mengedarkannya, ada antisipasi di seluruh pantai-pantai di bandara dan lain-lain sebagainya, dan perlunya campur tangan dari pada TNI disamping Polri, dalam menghadapi masalah ini, karena ini adalah masalah besar, serta perlunya partisipasi masyarakat dan pemuda dalam menghadapi masalah ini.

Yang kedua, adalah masalah reklamasi dan penjualan pulau-pulau atau konsesi Pulau-pulau memberikan hak kepada asing, bahayanya adalah akan erosi budaya, erosi nasionalisme, erosi sistem pertahanan dan banyak lagi masalah-masalah besar yang pada akhirnya akan mempersempit ruang gerak daripada rakyat Indonesia atau masyarakat Indonesia dimana saja. jadi tegasnya Reklamasi dan penjualan pulau-pulau itu, hendaknya dihentikan oleh Pemerintah Indonesia, karena sangat besar potensinya untuk menghancurkan negara dan bangsa ini di masa depan, karena kita sama-sama mengetahui bahwa hancurnya Palestina adalah disebabkan oleh penjualan tanah dan penguasaan tanah, dan dimana-mana masalah di dunia ini bermuara kepada masalah tanah. jadi alangkah ironisnya para pemimpin kita para pejuang kita merebut negeri ini dengan darah dan airmata, Kenapa kita bisa dengan Seenaknya saja memberikan konsesi penguasaan pulau-pulau kepada asing. Contohnya seperti Pulau Bintan Pulau Pari Kepulauan dan pulau-pulau lain yang sudah dikuasai asing, Saran kami sebagai etnis Sriwijaya bagian dari bangsa ini, agar Pemerintah saat ini menghentikan penjualan pulau dan penguasaan Pulau ataupun reklamasi, karena akan menghancurkan sistem pertahanan dan akan mempersempit ruang gerak para nelayan Indonesia, dan tidak ada pesan dari para Palawan pejuang Kemerdekaan bangsa ini untuk memberikan konsensi kepada bangsa asing.

Bahaya ketiga adalah koruptor, sudah saya katakan bahwa Koruptor ini sudah tidak takut sama Tuhan tidak takut sama Agama, tidak takut malu, potensi penghancuran ini sangat besar terhadap rakyat Indonesia dan APBN, kemudian dan lain-lain dia akan meluas ke mana-mana, dan pada waktunya nanti akan merusak total seluruh sistem yang ada di negeri ini, Sumbang saran dari kami Sriwijaya, Supaya diberikan hukuman mati atau “hukuman paksa bagi koruptor dibawah satu miliar dan hukuman mati di atas satu miliar”, karena kalau tidak demikian, tidak meniru Malaysia dan Tiongkok, maka habislah negara ini oleh para koruptor. Kami juga sudah menyampaikan sumbang saran, agar supaya seluruh pejabat yang akan dilantik, dipersilakan mengunjungi penjara-penjara Para Koruptor, agar mereka bisa menanyakan  bagaimana susahnya, dan satuhal yang paling mereka harus ingat oleh para pejabat itu, manakala seorang Pejabat itu di hari Senin mereka masih menjabat, punya derajat yang tinggi, kemudian dikawal oleh Pengawalan khusus, namun manakala tertangkap KPK di hari selasanya, maka habislah semua itu, dan mereka akan menjadi manusia yang hina, itu yang paling penting.

Yang keempat adalah komunisme, dimana komunisme ini adalah juga bahaya laten, yang sewaktu-waktu muncul, mereka akan bergerak kemana-mana, menggoyang kemana-mana, membuat macam-macam ulah dimana-mana, jadi sebaiknya sumbang saran kami, supaya yang berpaham komunisme, Ya… sudahlah hentikan saja itu, karena tidak akan mungkin Pancasila di hancurkan, dan tidak akan mungkin TNI akan berdiam diri, jadi sudahlah daripada kita mengalami masalah-masalah yang dahsyat di kemudian hari, lebih baik mari bersama-sama kita hidup dalam dunia Pancasila ini dan bersama-sama membangun negeri ini, hilangkanlah segala dendam dan lain-lain. Kemudian untuk para Panglima Kodam, Korem serta Kapolda maupun Kapolres, pada mereka yang berusia dibawah 50 tahun, waktu peristiwa G30S PKI mereka masih anak-anak ataubahkan belum lahir, maka sebelum dilantik juga agar berkunjung dulu ke museum Pancasila Sakti di Lubang Buaya, agar mereka tahu apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu.

Yang Kelima adalah “Kapitalisme dan Kolonialisme gaya baru”, ini disebabkan diberikannya konsesi yang besar oleh para Bupati dan Gubernur di daerah-daerah berupa izin prinsip, HGU dan lain-lain, dengan alasan membantu ekonomi di sekitar, tapi yang terjadi adalah hancurnya semua sistem para petani yang ada di sekitarnya, dan habisnya tanah-tanah yang sudah pernah diberikan HGU atau konsesi dan lain-lain, sehingga rakyat terjepit, kalau tidak percaya silahkan di evaluasi di daerah Sumatera Selatan saja tempat kelahiran kami, jadi sepanjang 200 km dari Muaradua sampai Palembang itu, kiri kanannya sudah dikuasai oleh asing sehingga rakyat yang berada di pinggiran sungai Komering, mau mancing pun sudah tak bisa lagi, jadi bagaimana kalau hal ini terjadi di Kalimantan, Papua, Sulawesi dan pulau-pulau lain, akan habislah tanah di negeri ini, untuk itu sumbang saran kami, adalah agar supaya para bupati Gubernur memberikan salinan catatan, Sudah berapa besar sudah berapa banyak tanah-tanah yang dikuasai oleh asing, dan lampirannya diberikan kepada Panglima TNI, pada TNI Angkatan Darat, TNI AU dan TNI Angkatan Laut juga POLRI, supaya TNI kita bersama POLRI dapat mampu mengevaluasi, mendeteksi dini, bagaimana kalau ini sampai terjadi 70% saja tanah kita dikuasai asing, habislah kita. Jadi sumbang saran kami, yang sudah kami Sebutkan terdahulu, bahwa TNI AL, AD dan AU untuk membuat pos-pos pengawasan, dimana tanah-tanah yang dikuasai diatas 20.000 hektar dan pantai-pantai yang sudah dikuasai asing, karena Percayalah dan Yakinlah bahwa ini akan sangat berbahaya di masa depan, sangat berbahaya bagi kelangsungan dari pada NKRI, kalau dinegara lain tidak ada kompromi masalah tanah dengan orang asing manapun, karena sangat berbahaya bagi keamanan negara, tegas Al Sadek.(Red)

0 komentar:

Posting Komentar