Minggu, 01 Oktober 2017

Sidang Senat STP Trisakti Kukuhkan Prof. Dr. Anak Agung Gde Agung Sebagai Guru Besar


Sidang Senat STP Trisakti Kukuhkan Prof. Dr. Anak Agung Gde Agung Sebagai Guru Besar

Bertempat di Aula Kampus STP Trisakti, pada Kamis 28/9, Sidang Terbuka Senat Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti mengukuhkan Prof. Dr. Anak Agung Gde Agung sebagai Guru Besar pada bidang Pariwisata Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, hadir dalam Pengukuhan tersebut, Koordinator Kopertis Wilayah III yang diwakili Drs. Noersal, Ketua Dewan Pembina Yayasan Trisakti Harry Tjan Silalahi, Ketua Yayasan Trisakti Dr Bimo Prakoso serta jajaran Pengurus Yayasan Trisakti yang lain, serta seluruh Ketua Sekolah Tinggi dilingkungan Yayasan Trisakti.

Ketua STP Trisakti Fetty Asmaniati ,SE,MM mengapresiasi Kemenristek Dikti serta Kopertis Wilayah III Jakarta yang telah memberikan keputusan kenaikan jabatan akademi Prof Anak Agung Gde Agung, sehingga STP Trisakti saat ini memiliki 2 Profesor dibidang ilmu Pariwisata, dan memiliki dosen dengan nomor induk khusus yang ke 3.

Hari ini merupakan momentum yang sangat kita syukuri, semoga dengan pengukuhan guru besar ini semakin meningkatkan peran dan fungsi perguruan tinggi, serta memberi semangat dosen-dosen STP Trisakti untuk mencapai gelar Guru Besar, menjadi Guru Besar bukan akhir pencapaian seorang dosen, tetapi justru menjadikan semangat dan senantiasa membangkitkan inspirasi baru, guna menghasilkan karya-karya yang brilyan dan bermanfaat bagi masyarakat luas, ungkapnya.

Sementara dalam sambutannya, Koordinator Kopertis Wilayah III, Illah Sailah yang dibacakan oleh Drs. Noersal (Kabid Akademik, Kemahasiswaan dan Ketenagaan) menegaskan, bahwa Prof. Dr. Anak Agung Gde Agung, adalah Guru Besar Pariwisata Pertama di Kopertis Wilayah III Jakarta.

Menurutnya, penobatan Prof. Dr. Anak Agung Gde Agung sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pariwisata di STP Trisakti, merupakan suatu kebanggan tersendiri bagi dunia pendidikan di Indonesia khususnya di Kopertis Wilayah III. “Prof. Dr. Anak Agung Gde Agung adalah urutan ketiga dosen yang dianugerahi gelar professor atau guru besar melalui jalur Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) di Indonesia.”

NIDK adalah Nomor Induk yang diberikan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) untuk dosen yang bekerja paruh waktu atau dosen yang bekerja penuh waktu tetapi satuan administrasi pangkalnya berada di instansi lain dan diangkat perguruan tinggi berdasarkan perjanjian kerja, paparnya.

Sementara pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Anak Agung Gde Agung juga menyampaikan orasi ilmiah dengan judul Tri Hita Karana yang berarti tali tak terputuskan dalam konversi budaya, alam dan pariwisata. Gde Agung menyatakan bahwa budaya dan alam seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Ketika keduanya dijaga dengan baik, mereka bisa bertahan. Falsafah Tri Hita Karana yang berasal dari Bali, katanya menekankan keseimbangan yang sakral dalam hubungan manusia dengan dunia manusia, dunia alam, dan dunia spiritual untuk mencapai kedamaian, falsafah itu bisa berkembang jika agama tidak tergerus dan tetap kuat. Hal ini karena melalui agama masyarakat diajarkan mempratikkan tingkah laku yang baik. Hal senada dinyatakan L Jan Slikkerveer, 

Guru Besar Universitas Leiden yang juga sebagai promotor Prof Anak Agung. “Falsafah Tri Hata Karana turut berkontribusi dalam memelihara keunikan dan keragaman warisan budaya Bali” ujarnya. Dia melakukan penelitian yang menunjukkan konsep Tri Hita Karana ada di Indonesia. Metodologi Slikkeveer digunakan oleh Gde Agung dalam penelitiannya mengenai Tri Hita Karana. Gde Agung juga mengatakan, pemfokusan obyek-obyek budaya sesuai ciri khas daerah perlu direncanakan sebelum dibangun. “Ada wacana untuk membangun sirkuit mobil F1 di Bali, padahal ini tidak sejalan dengan budaya di sana. Lalu rencana reklamasi di Benoa,” katanya. Dia mengatakan, Bali dapat dibuat sebagai tempat wisata orientasi budaya, Jakarta orientasi olahraga, dan Bunaken orientasi alam.
Disampaikan oleh L Jan Slikkerveer, bahwa Prof. Anak Agung Gde Agung merupakan salah satu dari 8 orang di dunia yang prasastinya terdapat di Leiden University. 8 Orang yang prasastinya tersmpan di Leiden University selain Anak Agung Gde Agung diantaranya Nelson Mandela dan Albert Einstein. Patutlah berbangga bangsa Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar