Rabu, 15 November 2017

Prianti Pimpin Lokakarya Kelangsungan Produk Kelapa Internasional di Manado

Prianti Pimpin Lokakarya Kelangsungan Produk Kelapa Internasional di Manado

Suasana di ruang Tondano Swiss-Bel Hotel Maleosan Manado, Sulut, Senin (14/11/2017), terlihat sedikit berbeda. Pasalnya, di hotel berbintang 5 yang terletak di jantung kota Manado tersebut telah digunakan untuk berkumpulnya para delegasi dari 13 negara dalam rangka membahas kelangsungan produk kelapa melalui International Workshop on Coconut Development dengan tema “Innovation and Collaboration to Sustain Coconut Sector” yang akan berlangsung 14-17 November 2017.

13 negara peserta lokakarya itu terdiri dari: Bangladesh, Fiji, Kiribati, Kamboja, Myanmar, Nauru, Papua Nugini, Sri Lanka, Solomon Islands, Timor Leste, Tonga, Samoa dan Indonesia.

Kegiatan yang diprakarsai Pusat Non-Aligned Movement Centre For South-South Technical Cooperation (NAM CSSTC), Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) dan Badan Litbang Kementerian Pertanian (Kementan) RI serta Balai Risert Tanaman Palma Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), sebagai upaya capacity building. Mengingat Indonesia menempati posisi pertama untuk produksi kelapa dan nomor dua untuk produksi minyak kelapa.

Pada kesempatan tersebut, Duta Besar Direktur Non Aligned Movement-Centre for South-South Cooperation (NAM SSTC), Prianti Gagarin Djatmiko Singgih saat memimpin kegiatan tersebut dengan menyampaikan opening statement mengatakan, melalui lokakarya ini, diharapkan diperoleh berbagai masukan, potensi kerjasama dan program pembangunan kapasitas dengan organisasi dan institusi baik nasional maupun intemasional. 
“Yang paling utama, lanjutnya, adalah meningkatkan standarisasi produksi kelapa khususnya bagi para petani kelapa di Indonesia. Diharapkan pula metode dan strategi pertanian/perkebunan kelapa berkelanjutan dari sebelum sampai sesudah panen ini dapat diaplikasikan di negara-negara berkembang lainnya. Ke depannya, para petani kelapa secara optimal dapat mengelola hasil panennya dengan lebih ber‘nilai tambah’ atau added value”.

Menurut Prianti yang juga merupakan Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Politik, Hukum dan Keamanan menambahkan, lokakarya diselenggarakan dalam format diskusi panel dengan berbagai presentasi ilmiah beberapa Lembaga Riset (Badan Litbang Kementan RI, Puslitbang Palma Provinsi, Pusat Riset dan Pengembangan Perkebunan Kelapa), pelaku industri kelapa dan sektor swasta yang menekuni komoditas kelapa sebagai produk komersial baik untuk konsumsi, nutrisi dan kesehatan/kecantikan serta berbagi pengalaman sukses (success stories) kerjasarna teknis mengenai perkebunan kelapa berkelanjutan dan manajemen perkebunan kelapa yang efektif untuk meningkatkan hasil produksi kelapa.

Lokakarya ini, lanjut Prianti, juga membahas berbagai kendala dan keterbatasan pengelolaan perkebunan kelapa, penanggulangan hama kelapa, optimalisasi produksi kelapa serta upaya dan strategi peningkatan kesejahteraan petani kelapa baik secara ekonomi, sosial maupun aspek lingkungan. Di hari terakhir Lokakarya, diselenggarakan pula program kunjungan dan studi banding ke pabrik produksi gula kelapa di Winuri Likupang dan unit produksi kelapa (coconut processing unit) serta pembibitan kelapa unggulan di Balai Riset Palma Manado.

“Kegiatan ini adalah wadah untuk saling bertukar pikiran dan merupakan tempat untuk sumbang saran mengenai baik-buruknya pohon kelapa itu sendiri. Kegiatan ini adalah kegiatan lanjutan setelah Training, yang diselenggarakan pada waktu lalu, bedanya saat ini kegiatan bukan lagi Training, tapi Workshop. Dimana disini para peserta tidak lagi berlatih, atau kami latih, melainkan sudah bisa mempresentasikan hasil tanaman kelapa dengan segala kemungkinan terburuknya, seperti saling berbagi tentang bahaya hama kumbang kelapa dan sebagainya”, Ujar Prianti.

Putri daerah Tondano ini selanjutnya menyampaikan bahwa lokakarya diselenggarakan dalam format diskusi panel dengan berbagai presentasi ilmiah beberapa Lembaga Riset (Badan Litbang Kementrian RI, Puslitbang Palma Provinsi, Pusai Riset dan Pengembangan Perkebunan Kelapa), pelaku industri kelapa dan sektor swasta yang menekuni komoditas kelapa sebagai produk komersial baik untuk komsumsi, nutrisi dan kesehatan/kecantikan serta berbagi pengalaman kerjasama teknis mengenai perkebunan kelapa berkelanjutan dan manajemen perkebunan kelapa yang efektif untuk meningkatkan basil produksi kelapa.

“Pohon kelapa dijuluki Tree of Life (pohon kehidupan), oleh karena seluruh bagian dari pohon kelapa mulai dari sabut, daging, batok, daun, tulang daun, hingga batang kelapa, sangat berguna dan memang sering dipakai oleh manusia. bahkan, kelapa juga bermanfaat untuk kesehatan dan kecantikan”, lanjut Prianti.
NAM CSSTC berharap, penyelenggaraan lokakarya internasional ini dapat membangun kesadaran yang kuat terhadap pengentasan kemiskinan dengan memastikan bahwa petani kelapa menjadi bagian dalam upaya penting meningkatkan kesejahteraan petani kecil serta pengentasan kemiskinan melalui identiflkasi faktor-faktor penghambat pelaksanaan perkebunan kelapa berkelanjutan.
“Perwakilan negara-negara berkembang tersebut, berlatar belakang akademisi dan periset/peneliti di bidang pertanian kelapa dan produk-produk kelapa serta turunannya, kelompok tani, pemerhati pertanian kelapa serta pelaku industri perkebunan kelapa dan sektor swasta di bidang produk-produk kelapa,” imbuhnya.

0 komentar:

Posting Komentar