KOMISI PENYIARAN INDONESIA BELUM MAKSIMAL DALAM MENGAWASI TELIVISI SWASTA, TV JANGAN MAU JADI CORONG PENCERAMAH AGAMA RADIKAL

KOMISI PENYIARAN INDONESIA BELUM MAKSIMAL DALAM MENGAWASI TELIVISI SWASTA, TV JANGAN MAU JADI CORONG PENCERAMAH AGAMA RADIKAL


Mari kita buat list, siapa-siapa saja penceramah agama yang suka mengisi acara di TV dan dia aktif menyebarkan paham radikal, hal tersebut diungkapkan pemerhati siaran yang juga Ketua HIPSI DKI Jakarta, KP Norman Hadinegoro.

Mengapa ini penting?, Pertanyaan ini bisa kita balik, mengapa ajaran agama yang intoleran dan radikal seperti pendapat dukungan masyarakat? Saya melihat salah satunya adalah akibat peranan statisun TV. Mereka memberi tempat orang-orang ini berceramah, dan jutaan masyarakat menyaksikan acaranya.

Katakanlah saat menjadi penceramah di TV, para pendukung intoleransi dan radikal itu tidak langsung membahas thema-thema sensitif di acaranya. 

Tetapi dengan mendapat tempat di sebuah acara TV, seolah mereka sudah punya legitimasi publik sebagai pengajar Islam. Orang awam akan menganggapnya sebagai penceramah kondang. Ada semacam peningkatan bobot pengaruh dari omongan mereka kepada masyarakat.

Jika dalam acara TV mereka bicara biasa-biasa saja, mungkin pada kesempatan lain gak begitu. Lihat saja status Maher At Thuwalibi. Menanggapi aksi teroris di Mako Brimob kemarin, dia menyebut polisi dengan sebutan "Monyet berseragam bencong". Meskipun status itu sudah dihapus, untung saja banyak orang yang sempat screenshot. Maheer khabarnya akan menjadi salah satu pengisi acara Ramadhan di Trans7.

Bayangkan jika pendukung teroris seperti Maher diberi panggung ceramah di TV. Apa tidak makin rusak bangsa ini?

Kita punya BNPT. Program deradikalisasi menghabiskan dana besar, tetapi proses radikalisasi justru muncul di TV-TV kita. Jika program deradikalisasi berjalan pelan dan terseok-seok, justru proses radikalisasi berjalan sangat masif. Disokong oleh stasiun TV. Lantas kita berharap negeri ini terbebas dari teroris? Mimpi!

Pengelola stasiun TV semestinya adalah orang yang pertama ditatar Idiologi Negara PANCASILA oleh BNPT agar mereka tidak menjadi kaki-tangan radikalisme. Setelah itu para agency pemasang iklan agar mereka jangan lagi memasang iklan di acara yang di dalamnya ada tokoh pendukung ajaran radikal.

Juga kepada produk-produk yang biasanya memasang iklan di acara pengajian seperti itu, sebaiknya hati-hati pilih program. Jangan cuma mementingkan keuntungan buat diri sendiri. Pikirkan juga masa depan masyarakat, papar KP Norman.

Ok, Anda semua sekarang bisa jualan. TV bisa terus siaran dan dapat untung. Agency dan produsen produk laku dengan iklan yang gencar. Tapi ketika kelompok barbar dan intoleran itu menguasai Indonesia, apakah Anda masih bisa eksis? Apakah tontonan Anda akan laku? Apakah agency Anda bisa terus beroperasi? Apakah masyarakat yang porak-poranda nanti sempat membeli produk Anda?

Tidakkah Anda belajar dari Suriah atau Libya. Di sana, kapan waktunya rakyat bisa menikmati acara TV? Jika rumahnya hancur dan hidupnya kalang kabut. Siapa yang bisa berbelanja obat maag, sirop atau sarung sementara desingan peluru lewat di atas kepalanya.

Menampilkan pembicara agama yang membawa paham radikal, bahayanya sama dengan Anda menjajakan narkoba. Masa depan bangsa yang ditakdirkan plural ini menjadi taruhannya.

Kita harus mendesak Kementrian Agama, Kominfo, KPI dan BNPT bertindak lebih jauh, mengasi konten radikal di TV. Tidak ada gunanya kita memerangi teroris, jika justru paham radikal kita fasilitasi di berbagai acara TV. 

AWASI CERAMAH BULAN RAMADHAN

Saya khawatir, Ramadhan nanti wajah-wajah yang tampil di TV sedang membawakan acara keagamaan adalah wajah-wajah yang justru ingin mendorong bangsa ini masuk ke jurang kehancuran. 

Jika ini dibiarkan, jangan kaget jika beberapa tahun lagi tiba-tiba kita sudah dikepung para teroris!, tegas KP Norman. (Red)

0 komentar:

Posting Komentar