Tutup TMMD, Kodim 0810 Nganjuk Gelar Teatrikal

Tutup TMMD, Kodim 0810 Nganjuk Gelar Teatrikal

Nganjuk. Penutupan program TNI Manunggal membangun Desa (TMMD) Reguler ke-101 tahun 2018 Kodim 0810/Nganjuk dimeriakan dengan pertunjukkan teatrikal, di lapangan Ngluyu, Kamis, 03 Mei 2018. Teatrikal bertema penanaman kembali nilai-nilai budaya dan pemantapan wawasan kebangsaan dengan judul “Selendang Sutra Topi Waja” tersebut menceritakan perjalanan sebuah desa yang memimpikan adanya pembangunan di desanya.

Menurut Marsudi, sutradara pertunjukkan menyampaikan, teatrikal menggambarkan perjalanan sebuah desa di Pandan Wilis, yang dari cerita mulut ke mulut telah berkembang, bila desanya dapat berkembang maju manakala kedatangan seorang tokoh yang mengenakan selendang sutra bertopi waja. Mereka datang ke desanya untuk membedah sebuah hutan menjadi jalan yang diidam-idamkan warga Desa Pandan Wilis. Akhirnya, impian tersebut terwujud ketika desanya kedatangan beberapa prajurit tentara yang natabene mengenakan topi baja, melaksanakan program TNI Manunggal membangun Desa (TMMD) di desanya. Akhirnya mereka bergotong-royong bersama tentara, dibantu aparat membabat hutan hingga menjadi jalan beraspal lapen.

“Yang dimaksud seorang tokoh yang mengenakan selendang sutra topi waja yaitu para tentara,” ucapnya.

Sejak itu, kondisi perekonomian di Pandan Wilis berkembang baik, hidup rukun, saling membantu. Mereka menghargai kebudayaan dan adat setempat sangat kuat. Setiap tahun selalu mengadakan persembahan sedekah bumi bagi leluhurnya, yang telah membabat desa tepi hutan tersebut. Kesenian yang mereka sukai adalah tayub untuk persembahan sedekah bumi.

Menurut Komandan Kodim 0810/Nganjuk Letkol Arh. Sri Rusyono, pertunjukkan teatrikal sengaja mengambil tema tentang penanaman kembali nilai-nilai budaya dan pemantapan wawasan kebangsaan untuk penutupan TMMD. Alasannya, wawasan kebangsaa bagi generasi muda dirasa telah mengalami degradasi. Sehingga, banyak ditemukan munculnya perilaku menyimpang pada diri pelajar dan generasi muda yang mengarah kepada instabilitas nasional.

Salah satu indikator munculnya perbuatan menyimpang tersebut, lantaran tingkat pemahaman terhadap wawasan kebangsaan menipis. Diantaranya terhadap nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

“Untuk itu, tujuan pertunjukkan drama kolosal mengangkat tema wawasan kebangsaan ini agar para generasi muda terutama pelajar tidak mudah terkontaminasi oleh pengaruh paham-paham radikal atau organisasi terlarang lainnya,” jelas Lettu Arh. Yono Periyono, Rabu, 02 April 2018 di lokasi gladi bersih, lapangan Ngluyu.

Pertunjukan teatrikal sendiri melibatkan para pelajar di kabupaten Nganjuk dan sejumlah pelaku seni dan aparat kepolisian dan TNI. (pendim_0810)

0 komentar:

Posting Komentar