Humanika Gelar Diskusi Publik

Humanika Gelar Diskusi Publik Kupas Tuntas Skandal BLBI

Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan Dan Keadilan (Humanika) akan menggelar diskusi hari ini, Jumat (13/7), di kawasan Mampang, Jakarta.

Menurut Presidium Persatuan Pergerakan, Andrianto, acara diskusi publik tersebut akan mengupas tuntas soal skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Acara diskusi itu akan menghadirkan sejumlah narasumber yang ahli do bidangnya masing-masing.

Di antaranya, mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier, ekonom dari Indef Bima Yudhistira, pengamat ekonomi Dina Nurul Fitria, pengamat hukum Margarito Kamis dan Ahmad Yani, serta Direktur Center for Budget Analisis (CBA) Uchok Sky Khadafi.

BLBI pada mulanya dari krisis moneter yang melanda Asia pada tahun 1997-1998 bermula kejatuhan mata uang Baht Thailand merembet ke sejumlah negara termasuk Indonesia,” kata Andrianto.

beliau menjelaskan, pemerintah Indonesia saat itu kemudian menggelontorkan ratusan triliun rupiah ke perbankan nasional dan swasta atas anjuran IMF. Namun, lanjutnya, terjadi penyelewengan oleh para pihak terutama pemilik bank.

Akibatnya audit BPK tahun 2000, kerugian negara mencapai Rp138,4 triliun. Angka yang fantastis pada saat itu di saat Indonesia dalam masa krisis,” tegasnya.

Dia mengungkapkan, banyak cara yang sudah dilakukan untuk skema penyelesaian, antara lain realese dan discharge Inpres no 8 tahun 2002 pada masa Presiden Ri ke-5, Megawati Soekarnoputri, yakni berupa SKL kepada obligor BLBI.

“Yang ironis kita pun harus menanggung dana bunga rekap Rp80 triliun per tahun sampai 2030 di APBN, ini sangat membuat pemerintahan kita semakin terpuruk dan rakyat Indonesia pun ikut semakin sengsara atas kasus BLBI tersebut” tegas beliau.

Tentu kita berharap momentum saat ini sudah layak BLBI dituntaskan. Sehingga ada penuntasan yang cepat, tidak berbelit-belit dan komprehensif sehingga uang negara yang jumlahnya ratusan triliun bisa dikembalikan untuk kemakmuran rakyat dan bisa mencerdaskan pemuda-pemuda Indonesia dalam bidang Pendidikan” Terang Andrianto.

0 komentar:

Posting Komentar