Laporan Dari Ambalat, NKRI HARGA MATI

Laporan Dari Ambalat, NKRI HARGA MATI

Ambalat merupakan sebuah blok laut seluas 15.235 kilometer persegi yang terletak di laut Sulawesi atau Selat Makassar dan berada di dekat perpanjangan perbatasan darat antara Sabah, Malaysia dan Kalimantan Timur, Indonesia. Blok ini menyimpan potensi kekayaan laut yang luar biasa, terutama minyak.

Sejak 1979 Malaysia sudah mengincar Ambalat, ketika negeri itu memasukkan Pulau Sipadan dan Ligitan yang berada di perairan Ambalat sebagai titik pengukuran zona ekonomi eksklusif mereka. Dalam peta itu, Ambalat pun diklaim milik Malaysia memancing protes dari Indonesia. Di sisi lain, Indonesia tegas menyatakan Ambalat sebagai bagian dari wilayah NKRI sebab dari segi historis, Ambalat merupakan wilayah Kesultanan Bulungan di Kalimantan Timur yang jelas masuk Indonesia. Terlebih berdasarkan Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa yang telah diratifikasi RI dan tercantum pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1984, Ambalat diakui dunia sebagai milik Indonesia.

Klaim kepemilikan tersebut pada akhirnya memunculkan sengketa wilayah antara Indonesia dengan Malaysia yang hingga saat ini belum dapat terselesaikan semenjak awal sengketa pada tahun 2005 yang lalu. Sejak awal sengketa, Panglima TNI telah memerintahkan TNI AL untuk mengantisipasi perkembangan situasi di wilayah perbatasan laut RI – Malaysia di Kalimantan Timur. Hal ini disikapi oleh TNI AL dengan menggelar operasi pengamanan perairan perbatasan wilayah laut RI-Malaysia di sekitar perairan Ambalat termasuk di dalamnya dengan mengerahkan ratusan prajurit Korps Marinir.

Saat ini Satuan Tugas Marinir (Satgasmar) yang tergelar adalah Satgasmar Ambalat XXIII di bawah pimpinan Kapten Mar Yusuf Muchram. Satgas ini diberangkatkan dari Surabaya pada tanggal 17 April 2018 dan mulai aktif bertugas setelah sebelumnya serah terima tugas terhitung mulai tanggal 26 April 2018. Satgasmar ini ditempatkan di beberapa pos Satgas seperti di Sei Pancang, Sei Taiwan, Sei Bajo, Balansiku, Tambaring dan Bambangan.

Keberadaan Satgasmar di lokasi ini sejatinya cukup penting. Mereka ini menjalankan tugas pokok yaitu menjaga dan pengawasan di perbatasan darat dan pantai di Pulau Sebatik untuk mendukung tugas pokok Kogaslagab Ambalat. Di sini, para prajurit Marinir harus siap menghadapi dan mengantisipasi ancaman yang mungkin timbul seperti adanya Pergeseran patok perbatasan untuk memperluas lahan untuk kepentingan pihak tertentu, kegiatan lintas batas secara ilegal, penyelundupan BBM, sembako dan barang – barang terlarang, ilegal logging, penyelundupan munisi, senjata dan bahan peledak, Pencemaran lingkungan yang berbahaya bagi kehidupan atau dapat merusak lingkungan di sekitar perbatasan darat dan melindungi pencurian sumber daya alam NKRI di sekitar perbatasan darat.

"Selain tugas pokok tersebut, kami di sini juga aktif melakukan pembinaan teritorial melalui kegiatan antara lain memberikan bantuan alat penerangan tenaga surya kepada Masjid, Gereja, dan Masyarakat diperbatasan yang membutuhkan, memberikan pengobatan gratis kepada masyarakat yang membutuhkan di perbatasan dan memberikan wawasan Nasionalisme kepada Masyarakat dan para pelajar di Sekolah", ujar Kapten Mar Yusuf Muchram saat diminta on air di RRI Kab. Nunukan dalam salah satu program bertema "Menjaga Kedaulatan NKRI di Perbatasan" Selasa (17/7/2018) pukul 20.30-21.30.

Untuk menjalin dan menjaga kekompakan antara TNI dengan rakyat, para Marinir juga seringkali melakukan kegiatan silaturahmi dengan masyarakat, membantu masyarakat yang membutuhkan dan membuat program kegiatan yang melibatkan masyarakat dengan program penanaman pohon mangrove di pantai, melaksanakan olahraga bersama, berdialog dengan pemuda karang taruna tentang Proxy War ( bahaya terhadap generasi muda ), mengadakan kegiatan donor darah, melaksanakan pembinaan Saka Bahari dsb.

Sebagai salah satu garda terdepan dalam menjaga kedaulatan NKRI, prajurit Korps Marinir yang bertugas di Ambalat berharap TNI dan Polri Harus tetap bersatu dengan rakyat karena TNI lahir dari rakyat dan untuk rakyat. Masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote pun harus mempunyai jiwa Nasionalisme yang kuat untuk menjaga kedaulatan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. "Jayalah Indonesia, NKRI Harga Mati!!".

0 komentar:

Posting Komentar