Pengaruh Media Sosial terhadap Nilai-Nilai Kejuangan Prajurit

Pengaruh Media Sosial terhadap Nilai-Nilai Kejuangan Prajurit

Perkembangan teknologi dan informasi selain memberikan dampak positif juga telah mendorong dimensi ancaman baru bagi para prajurit TNI AD, demikian disampaikan oleh Tim Dispenad dalam kegiatan sosialisasi pengaruh media sosial kepada satuan jajaran Kodam VII/Mlw di Makorem 101/Antasari Kamis, (13/07/2018).

Dalam pengantarnya Ketua Tim Dispenad Kol Arh Saptarendra Prasada menyatakan bahwa revolusi industri generasi 4.0, telah mendorong perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, sehingga menjadikan dunia dan negara tanpa batas (borderless) dan menerobos dimensi ruang, jarak dan waktu.

"Semua peristiwa dari berbagai belahan bumi dapat dengan segera mengajses dengan cepat hanya dengan hitungan detik atau real time. Jika dahulu kita tergantung kepada koran dan televisi maka saat ini opini dan persepsi masyarakat dapat dengan mudah terbentuk dari penyebaran berita dari media online", sambungnya.

Menurut Kasubdis Penerangan Medonline Dispenad ini, media informasi saat ini juga tengah bertransformasi kedalam media sosial yang perluasan dan dampaknya justru semakin masif langsung kepada perorangan dari berbagai kalangan baik orang tua, remaja, anak kecil. Secara khusus kepada anggota TNI AD, tidak hanya dipandang sebagai media komunikasi dan informasi semata, namun juga media sosial telah menjadi senjata pihak lain yang dapat mendegradasi nilai-nilai kejuangan dan norma-norma keprajuritan.

"Jika kita cermati di media sosial, saat ini banyak diantara personel TNI yang terlarut dalam candu gadget (phubbing) , dimana dalam berbagai aktifitas ditemukan anggota yang asyik bermain gadget dan berselancar di dunia maya hanya karena ingin eksis dan mencapai status di media sosial (social climber). Situasi tersebut tentunya akan mempengaruhi kondisi mental kejuangan prajurit dan kesiapan operasional satuan serta sistem pembinaan di satuan" , jelasnya.

Dikatakan lulusan Akmil 1996 ini, yang lebih berbahaya lagi adalah dampak dari media sosial sangat kompleks yang tidak diketahui dan disadari oleh anggota maupun keluarga prajurit. Berbagai posting foto dan video mereka banyak digunakan oleh berbagai pihak untuk kepentingan bisnis, bahkan disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan konten bermuatan negatif.

Menurutnya, konten-konten prajurit dan aktifitas satuan yang disebarluaskan di berbagai akun media sosial tersebut banyak yang tanpa ijin atau sepengetahuan dari pemiliknya maupun satuannya. 

"Mereka asal comot sesuai kepentingannya tanpa memperhatikan dampak negatif bagi anggota maupun TNI AD secara institusi. Publikasi di media sosial tentang TNI memang banyak yang positif, tapi tidak sedikit juga hal mengandung konten negatif seperti aplikasi Tik Tok yang sempat ditutup oleh Kemenko dan juga channel di You Tube serta beberapa akun Instagram, " Imbuhnya.

Dalam paparannya, Sapta juga menjelaskan bahwa konten yang diunggah oleh prajurit pada awalnya hanya untuk lucu-lucuan, namun akhirnya jadi mewabah bahkan seolah-olah
para prajurit dan PNS dari berbagai golongan berlomba-lomba memposting "karya lucu mereka" yang di "produksi" diberbagai kesempatan baik saat diluar dinas maupun jam saat dinas. 

Menurutnya, dengan adanya fenomena tersebut makan sebagai unsur pertahanan negara, anggota TNI harus lebih berhati-hati dan waspada karena sesungguhnya aplikasi yang terhubung dengan akun Medsos dan alamat email sangat mudah untuk dimanfaatkan
sebagai sarana pengumpulan informasi maupun pemetaan lokasi satuan dan obyek strategis (rahasia) milik TNI AD , bahkan akun tersebut dapat dengan mudah direntas oleh berbagai pihak berkepentingan.

"Selain terhadap obyek pangkalan dan kegiatan, hasrat eksistensi anggota ini juga dapat berimbas kepada keselamatan para pejabat. Contohnya adalah update status lokasi yang dilakukan pengemudi, pengawal ataupun staf pimpinan TNI di akun medsos mereka " ungkapnya. 

Untuk mengatasi hal tersebut, ditekankan kepada para prajurit maupun PNS TNI AD termasuk ibu Persit harus mem-privasi akun dan tidak memposting lokasi pada postingan mereka.

" Lagi pula kita harus sadar bahwa segala dokumentasi yang kita buat sesungguhnya hanya untuk kepentingan pribadi dan mungkin kerabat atau sahabat secara terbatas. Ingat, jati diri kita adalah Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional dan Tentara Profesional. Kita bukanlah selebritis yang harus senantiasa eksis di publik atau di media sosial", ujarnya.

Para prajurit dan PNS jangan ditekankan agar tidak tergoda rayuan dari akun-akun pengumpul foto dan video anggota TNI hanya karena iming-iming finansial, ketenaran maupun lainnya. Menurutnya, bagi para akun pengumpul foto dan video, tentara dan keluarganya tidak lebih hanya sebagai obyek pelaris produk yang mereka promosikan.

 "Oleh karenanya diharapkan agar para prajurit menyaring sebelum sharing, kemudian pedomani aturan di TNI AD yang melarang anggotanya memposting foto pribadi atau orang lain berpakaian dinas di Medsos. Aturan ini tentu tidak hanya di kita saja namun juga di beberapa negara, aturan bermedia sosial juga diberlakukan dengan sangat keras dan ketat, " tegasnya. 

Selain tentang Medsos, dalam kesempatan tersebut juga disampaikan kepada 350 orang peserta yang hadir bahwa kecerdasan dalam ber-Medsos mutlak diperlukan supaya tidak terjebak oleh berita hoax, ujaran kebencian dan berbagai isu pertentangan yang ada di dunia Maya.

Kemudian dalam rangka mendaklanjuti kerjasama antara TNI dan Dewan Pers serta media, juga disampaikan bahwa semenjak 2017 , secara institusi TNI telah sepakat dan berkomitmen untuk menjaga independensi dan keselamatan wartawan yang tengah menjalankan tugas jurnalistik, sehingga dalam berbagai kesempatan anggota TNI AD harus mampu mengawal dan menjaga komitmen sinergitas dan soliditas TNI-Media.

"Kita harus ingat, wartawan dan jurnalis pada dasarnya pembawa semangat perjuangan bangsa dari mulai jaman pergerakan kemerdekaan. Bahkan media juga yang telah menamakan nilai -nilai kejuangan bangsa Indonesia yang melekat dengan TNI. Oleh karena itu, wartawan dan jurnalis dapat dikatakan sebagai saudara tua dari TNI, " pungkasnya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

CALEG PERINDO DPRD DKI DAPIL 9 NO.6

CALEG PERINDO DPRD DKI DAPIL 9 NO.6