Jakarta, 11 Februari  2020.
Nomor    : 043/FHV/PR-Pid/II/2020.
Lampiran       : 1 Berkas Hak jawab Disusun Oleh Sdri Juniar Alias Vero.



PERIHAL : PRESS CONFERENCE DAN HAK JAWAB


Perkenankan kami Kamaruddin Simanjuntak, S.H., Dan Rekan, Pribadi-pribadi Warga Negara Indonesia, pekerjaan Advokat dan Konsultan Hukum pada kantor Firma Hukum “Victoria” beralamat di Taman Kedoya Baru Jl. Kedoya Angsana IV Blok D-5 N0.27 Kedoya Selatan - 11520 Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta, HP.0815 8840 240, 0822 394 34 111, Email : kamaruddin_victory@yahoo.co.id, Telp/fax. 021 5804344, dalam hal ini berdasarkan Surat Kuasa Nomor : 007/FHV/SK-Pid/I/2020, tanggal 10 Januari 2020, bertindak untuk dan atas nama Sdri. JUNIAR, Perempuan, NIK: 3173036211630001, Warga Negara Indonesia, Tempat & tanggal lahir : Palembang, 22 November 1963, Pekerjaan : Wiraswasta, Agama : Kristen, Beralamat di Pantai Mutiara Blok R No.48 R.T.009,  R.W.016, Kel. Pluit, Kec. Penjaringan, Kota Jakarta Utara DKI Jakarta, untuk selanjutnya kami sebut sebagai “Klien”

Untuk Dan Atas Nama Klien Kami, Dengan Ini Kami Memberi Hak Jawab Dan Konferensi Pers, Dengan Poin – Poin Sebagai Berikut : 
 
1.    Hak Jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya ;
2.    Hak jawab digunakan ketika pemberitaan di media, baik media cetak, media siber, maupun media elektronik, bertolak belakang dengan fakta yang terjadi dan mencemarkan nama baik seseorang atau sekelompok orang;
3.    Peraturan tentang hak jawab ini dimuat Undang-undang RI Pers Nomor 40 tahun 1999 dalam ketentuan pasal 1, pasal 5, pasal 11, dan pasal 15 ;
4.    Bahwa hari ini kami memberi hak jawab, sehubungan dengan nama baik  Klien kami telah dicemarkan oleh Dirkrimum Polda Metro Jaya melalui siaran Peras / Press Release Dirkrimum Polda Metro Jaya, Pada Tanggal    : 28 Januari 2020, Pukul     : 13:30 WIB, Dalam Laporan Polisi No.: LP/5905/IX/2019/PMJ/Ditreskrimum, tanggal 17 September 2019, Atas Berita : Juniar alias  Vero, Pendeta Muhammad Husein Hosea,S.Th., dan Agus Butar Butar, S.T., S.H., M.M., M.H. dengan memberitakan / menyebut Klien kami sebagai “Pendeta Gadungan dan Terapis Palsukan Akte Nikah Untuk Kuasai Tanah Senilai 40 Milyar” melalui siaran Pers Polda Metro Jaya ;
5.    Bahwa Siaran Pers atau pernyataan itu jelas adalah Fitnah dan Pencemaran nama baik, sebab klien kami yaitu : Pdt. Mohammad Hosea, S.Th., adalah Pendeta yang benar “Bukan Gadungan” mengaku Lulus dengan  gelar S.Th dari STT Nomensen kisaran tahun 1972-1977 pernah melayani di Gereja mainstream semisal HKBP sehingga sesuai Penahbisannya berhak menikahkan Calon Pengantin ;
6.    Bahwa   demikian juga Klien Kami atas nama Juniar alias Vero “bukan Terapis” melainkan Fisiologi, dan Chinese dokter (TCM), acupuncture, Peripheral, dan MET dan pemilik / pendiri Klinik Pratama Rumah Engedi di Kelapa Gading, Bali, Surabaya, dan Singapura  “Pengusaha” ;
7.    Bahwa klien kami / Sdri. JUNIAR alias Vero adalah Isteri yang sah dari  Sdr. Basri Sudibjo menurut hukum Indonesia berdasarkan :
a.    Surat Akte Perkawinan Nomor 02/GKP/C-B/VI/A-K/2017, tanggal 11 Pebruari 2017,  yang telah  dilakukan menurut Hukum Gereja  dan/atau Agama Kristen ; 
b.    Penetapan Nomor : 290/Pdt.P/2019/PN,Jkt.Utr tanggal 13 Mei 2019, yang pada pokoknya Menetapkan  : 
1.     Menerima dan mengabulkan permohonan Pemohon (klien Kami Sdri. Juniar ) untuk seluruhnya ;
2.     Menyatakan dan menetapkan Sah Perkawinan Pemohon (klien kami / Sdri. JUNIAR dengan Sdr. Basri Sudibjo) ;
3.    Memerintahkan dan memberi ijin Kepada Kantor Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Jakarta Utara untuk menerbitkan akta atau mencatatkan atau memberikan Surat Keterangan Perkawinan dan Dicatatkan kedalam buku Register yang dipergunakan untuk keperluan itu ;
c.    Telah dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku berdasarkan Kutipan Akta Catatan Sipil, Register Surat Keterangan Pelaporan Perkawinan Bagi Pasangan Yang Salah satunya Telah Meninggal Dunia, Nomor 03/Ket.Perkw/PN/2019, Pada hari Jumat, tanggal 17 Mei 2019; 
d.    Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Nomor : 198/Pdt.G/2019/PN Jkt Utr, tanggal 20 November 2019, DIMANA Klien kami sebagai Tergugat, sementara Pelapor (Anak Tiri Klien Kami sebagai Penggugat) dengan Amar Putusan SBB :
MENGADILI :
Dalam Provisi
-    Menolak tuntutan provisi dari Penggugat;
Dalam Eksepsi
-    Menolak eksepsi yang diajukan Tergugat;
Dalam Pokok Perkara
1.    Menyatakan menolak gugatan para Penggugat untuk seluruhnya ;
2.    Menghukum para Penggugat untuk membayar biaya perkara secara tanggung renteng sebesar Rp. 1.582.000,00 (satu juta lima ratus delapan puluh dua ribu rupiah);

Demikian diputuskan dalam rapat musyawarah Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara, pada hari Senin, tanggal 18 Nopember 2019, oleh Kami, Didik Wuryanto, S.H., M.Hum., sebagai Hakim Ketua, Sarwono, S.H.,M.Hum., dan Budiarto, S.H., masing-masing Hakim Anggota. Putusan tersebut pada hari Rabu tanggal 20 Nopember 2019 diucapkan dalam persidangan terbuka untuk umum oleh Hakim Ketua dengan didampingi oleh para Hakim Anggota tersebut, dibantu Efa Cendrakasih, S.H., sebagai Panitera Pengganti, dihadiri Tergugat tanpa dihadiri oleh para Penggugat/Kuasa Para Penggugat dan Turut Tergugat;

Hakim-hakim Anggota :                Hakim Ketua,

Sarwono, S.H.M.Hum            Didik Wuryanto, S.H.M.Hum

Budiarto, S.H
 
Panitera Pengganti

Efa Cendrakasih, S.H.,


8.    Bahwa berdasarkan keterangan Klien kami diperkuat oleh bukti otentik, Suami Klien kami atas nama Sdr. Basri Sudibjo pernah  sakit dan masuk perawatan di Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, dari  tanggal 14 September 2018, yaitu dirawat oleh Sdr. dr. Antono Sutandar, Sp.JP dan kemudian dikonsultasikan perawatannya kepada Sdr.  dr. Frandy Susatia, Sp.S,  atas rekomendasi dr. Janto Simkoputera, Sp.PD selaku Eks Dirut  Rumah Sakit  Siloam, pasca berkomunikasi by WA dengan dr. Theresiaty Pohe selaku Ibu Angkat Klien kami ;
9.    Bahwa tanpa sebab yang jelas menurut hukum, Klien kami tidak pernah diberikan izin & akses untuk melihat dan merawat suaminya yang sedang sekarat dan dirawat oleh Sdr. dr. Antono Sutandar, Sp.JP selaku bertindak sebagai dokter utama “main docter”  perawatan dan oleh Sdr.  dr. Frandy Susatia, Sp.S, sebab setiap kali  klien kami datang ke RS Siloam Kebon Jeruk, untuk tujuan besuk dan/atau menghampiri suami yang sah menurut hukum, klien kami selalu saja diusir secara paksa oleh Sdri. Suzana Liany dan Sdr. Martin Adam dan/atau oleh Petugas suruhannya dan peristiwa pengusiran itu diduga sengaja dibiarkan oleh Sdr. dr. Antono Sutandar, Sp.JP selaku dokter utama yang merawatnya, sementara klien kami bermaksud membawa suaminya berobat ke Rumah sakit terbaik di Singapura, tidak pernah pernah  diizinkan oleh para pelaku pengusiran klien kami tersebut ;
10.    Bahwa berdasarkan informasi dari klien kami, pada Hari Rabu, tanggal 19 September 2018 dari Ruang HCU lantai 4 RS Siloam Kebon Jeruk, dan/atau ada  juga informasi lainnya pada hari kamis,  tanggal 20 September 2018 sekira pukul 14.00 WIb dari ruang 2607 lantai 2, Sdr. Basri Sudibjo atau Suami Klien kami, diduga telah  “dibawa pulang secara paksa sebelum sakitnya sembuh menggunakan Mobil Ambulance RS Siloam” oleh Sdri. Suzana Liany dan Sdr Martin Adam dari Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, yang ketika itu  sedang sekarat dan  dirawat oleh Sdr. dr. Antono Sutandar, Sp.JP dan baru 2 kali  / hari dikonsultasikan kepada Sdr.  dr. Frandy Susatia, Sp.S,  atas rekomendasi dr. Janto Simkoputera, Sp.PD selaku Eks Dirut  Rumah sakit  Siloam ;
11.    Bahwa  berdasarkan informasi yang kami peroleh, Suami klien kami / Sdr. Basri Sudibjo, diduga hanya disekap saja dirumah Sdri. Suzana Liany dari tanggal 19 September 2018 hingga Meninggal Dunia pada hari Rabu, tanggal 10 Oktober 2018 sekira pukul 08.46 WIB, dengan cara dijemput oleh Ambulance RS Siloam Kebon Jeruk kerumah Sdri. Suzana Liany, namun sudah dalam keadaan tidak bernyawa ketika tiba di UGD RS Siloam Kebon Jeruk. Artinya suami Klien kami diduga tanpa dirawat selayaknya seorang manusia dan/atau hanya dirumahkan begitu saja di rumah kediaman Sdri. Suzanna Liany dan/atau  tanpa rujukan ke Tiem dokter ICU selama kurang lebih 21 Hari, sementara Isterinya dan para  Karyawan kantor tidak pernah diziinkan untuk bezuk  ! ;
12.    Bahwa menurut informasi yang didapat oleh klien kami dari nara sumber terpercaya/Dokter di RS Siloam, Suami Klien kami / Sdr. Basri Sudibjo yang masih sakit diduga Penyakit Stroke dengan diagnosa Hemiplegia atau  kelumpuhan yang terjadi disebabkan oleh stroke atau cedera yang disertai pendarahan, dengan kekuatan gerakan tangan hanya sekira 3 dan maksimum 5 melawan gravitasi, diduga telah disekap oleh Sdri. Suzana Liany dan Sdr Martin Adam, dan hanya dijaga oleh pembantu pembantu rumah tangga saja dan tanpa perwatan yang wajar, dengan tujuan dibawa pulang hanya untuk mendapatkan / memalsukan dokumen Notaris / PPAT No. 03 tanggal 20 September 2018, tanpa pernah Notaris/PPAT dimaksud bertemu dengan almarhum Suami Klien kami / Sdr. Basri Sudibjo ! ;
13.    Bahwa untuk menperjelas permasalahan ini, kami sebagai Advokat dan kuasa hukum dari Sdri. JUNIAR, dan demi kepentingan kepastian hukum dan keadilan, sesuai pasal 17 UU No. 18 tahun 2003 tentang advokat, dengan ini  kami selaku kuasa hukum klien kami  telah berkirim surat kepada Direktur utama RS Siloam Kebon Jeruk, meminta foto copy status dan Isi Rekam Medis dan/atau Resume/Ringkasan Rekam Medis dari Suami Klien kami / Sdr. Basri Sudibjo kepada yth, Direktur Utama Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk  Jakarta Barat, sebagaimana dimaksud oleh Pasal 46 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, Jo Pasal 29 ayat (1) huruf h Undang-Undang RI  Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit , Jo. Pasal 12 ayat (2) dan ayat (3) Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis “Permenkes RI  269/2008”  Jo Pasal 12 ayat (4) Permenkes RI No.  269/2008 yang menjelaskan bahwa: “ringkasan rekam medis dapat diberikan, dicatat, atau dicopy oleh pasien atau orang yang diberi kuasa atau atas persetujuan tertulis pasien atau keluarga pasien yang berhak untuk itu.”;
14.    Bahwa akan tetapi hingga saat ini RS Siloam Kebon Jeruk belum bersedia Memberikan ringkasan rekam medis dimaksud dengan alasan pada pokoknya Sebagai rahasia Kedokteran SBB :
“Bahwa berdasarkan ketentuan Perundang-undangan yang berlaku (Entah perundang-undangan yang mana maksudnya tidak jelas : red) setiap pasien mempunyai hak mendapatkan Privasi dan kerahasian penyakit yang diderita termasuk identitas dan data-data medisnya ; dan setiap rumah sakit harus menyimpan rahasia kedokteran serta dapat menolak mengungkapkan segala informasi kepada publik yang berkaitan dengan rahasia kedokteran” 
Sementara Klien kami bukanlah Publik, melainkan isteri yang sah dari  Alm. Sdr. Basri Sudibjo, akibatnya kami semakin curiga atas kematian Almarhum Suami Klien kami, sepertinya ada yang disembunyikan ;
15.    Bahwa Klien kami telah 2 kali dilaporkan kepada Polda Metro Jaya oleh Anak Tiri Klien kami atas nama Martin Adam dan Sdri. Suzana Liany, pertama soal ketentuan Pasal 372 Jo Pasal 378 KUHP namun tidak terbukti, selanjutnya dilapor lagi diunit yang sama subdit yang sama Dirkrimum Polda Metro Jaya  dengan mengganti pasal menjadi pasal 263 KUHP tentang Pemlasuan Jo Pasal 264 KUHP Jo Pasal 266 KUHP Jo Pasal 55-56 KUHP, dengan menuduh Pendeta yang memberkati Pernikahan Klien kami dengan Almarhun adalah sebagai Gadungan dan Klien kami sebagai Terapis, untuk tujuan menguasai Sertipikat Hak Guna Bangunan atas Tanah Nomor 09360 atas nama Drs Basri Sudibjo, senilai Rp. 40 milyar, yang mana tuduhan itu adalah fitnah dan Pencemaran nama baik, sebab Sertipikat Nomor 09360 atas nama Drs Basri Sudibjo tersebut diperoleh Klien kami langsung dari Suaminya dengan tanda terima Notaris dari Grace Parulian Hutagalung,S.H.;
16.    Bahwa yang diduga melakukan Pemalsuan Surat atau Akta Otentik  adalah justeri Pelapor ( Anak Tiri Klien Kami) atas  Akta Notaris “Palsu” Nomor  03 tanggal  20 September 2018 tentang Menarik dan menghapus Wasiat Lama yang diduga dibuat oleh Notaris/PPAT  Grace Parulian hutagalung,S.H., “tanpa bertemu dan tanpa mengetahui kondisi kesehatan Alm. Sdr. Basri Sudibjo” ;
17.    Adapun  Suami Klien kami  / Sdr. Basri Sudibjo dibawa pulang tanggal 19 September 2018 dari RS Siloam, diduga untuk tujuan  menandatangani Akta Notaris Nomor  03 tanggal  20 September 2018 tentang Menarik dan menghapus Wasiat Lama oleh Notaris Grace Parulian hutagalung, S.H., yang beralamat Jalan Gatot Subroto KM. 3 Tangerang Pusat Niaga Cibodas, Blok C No. 35., Nomor Telepon 55790233 Banten,  sementara  Klien kami  ada melakukan Pertemuan pada  tanggal 09 Januari 2019 dengan Sdri. Grace Parulian Hutagalung, S.H., di Coffe Bean Lantai Ground Pacific Place Jakarta selatan, pada sekira pukul 14.00 WIB / siang hari, dimana ketika itu Sdri. Grace Parulian Hutagalung, S.H., mengatakan : “tidak pernah bertemu dan juga tidak tahu bahwa Alm. Sdr. Basri Sudibjo masuk Rumah Sakit, pada tanggal 14 September 2018  dan kemudian  tidak tahu bahwa telah meninggal dunia tanggal 10 Oktober 2018, sebab tidak ada yang memberitahukan kepada Notaris Grace Parulian hutagalung, S.H.”  ! Dalam pertemuan antar Klien kami dengan Sdri. Grace Parulian Hutagalung, S.H., mengatakan bahwa “baru tahu kalau Suami Klien kami  / Sdr. Basri Sudibjo telah masuk Rumah Sakit Siloam & Meninggal” ketika Sdr. Sugiyanto “Yanto” selaku Staf kepercayaan Alm. Sdr. Basri Sudibjo datang ke kantor Sdri. Grace Parulian Hutagalung, S.H., meminta pengesahan Akta lahir Sdr. Martin dan Akta Kawin Alm.Sdr. Basri Sudibjo pada tanggal 26 Oktober 2018;
18.    Bahwa untuk menperjelas permasalahan ini, kami sebagai Advokat dan kuasa hukum dari Sdri. JUNIAR, dan demi kepentingan kepastian hukum dan keadilan, sesuai pasal 17 UU No. 18 tahun 2003 tentang advokat, dengan ini  meminta keterangan terkait proses Pembuatan dan Penggunaan Akta Notaris “Palsu” Nomor  03 tanggal  20 September 2018 tentang Menarik dan menghapus Wasiat Lama yang diduga “tanpa bertemu dan tanpa mengetahui kondisi kesehatan Alm. Sdr. Basri Sudibjo”, kami telah bersurat pada tanggal 23 Januari 2020 kepada sdri. Grace Parulian Hutagalung, namun yang bersangkutan belum mau menjawab pokok masalah dengan berdalih yang bersangkutan berlindung dibawah Majelis Kehoirmatan Notaris, hal ini sangat penting karena ada dugaan kejahatan Pemalsuan Surat/Akta Otentik sebagaimana dimaksud oleh Pasal 16 ayat (1) huruf b UU 2/2014 tentang Notaris dalam menjalankan jabatannya, Jo Pasal 263 KUHP mengenai pemalsuan surat, Jo pasal Pasal 264 ayat (1) KUHP tentang Pemalsuan akta otentik diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun, Jo pasal 266 ayat (1) KUHP menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik dan diduga telah  didaftarkan ke Kementerian Hukum Dan HAM RI Jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP !
19.    Bahwa Perkara Klien kami saat ini sudah P-21 Tahap 2 dan saat ini Klien kami  sedang ditahan di Rutan Kelas II Pondok Bambu, namun kemarin kami check, Perkaranya belum didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, untuk lengkapnya, Klien kami telah menyusun sendiri Hak Jawabnya sebagaimana Lampiran surat ini !
20.    Untuk itu kami mohon kepada Yth, Rekan-rekan Wartawan/Jurnalis/Pers dapat meluruskan permasalahan ini melalui Hak Jawab yang dilindungi oleh Undang-undang RI Pers Nomor 40 tahun 1999 dalam ketentuan pasal 1, pasal 5, pasal 11, dan pasal 15 ini.
Demikian PRESS CONFERENCE DAN HAK JAWAB ini, kami buat, ditandatangani untuk dipergunakan sebagaimana mestinya, dan atas bantuan dan kerjasama Rekan-rekan Pers / Jurnalis meluruskan Permasalahan ini, kami ucapkan terimakasih.


Hormat kami, 





KAMARUDDIN SIMANJUNTAK, S.H.


Tembusan kepada Yth:

1.    Klien;
2.    Arsip.

0 komentar:

Posting Komentar

 

SEL SURYA

SEL SURYA